Mechanical debranning sorghum may be carried out traditionally by pounding using mortar and pestle and generally by using an abrasive mill. however sorghum de braning may also be carried out chemically by soaking in dilute NaOH solution, ranging from a 0,3 %-1,5% whic causes softening of the pericarp. thus pacilitating it's separation from the grain without damaging the endosperm. the iam of this research was to determine the best concentration % NaOH solution in combination with soaking duration at 60C in order to obtain high values for milling yield,sphericity, bulk dencity, true dencity, a bright a coloured dehulled seed, and low values for % (d.b) water, % (d.b) fat, % (d.b) crude fiber, % (d.b) ash and the first pH dehulled seed. A randomized block design in factorial pattern consisting of 2 factors and 3 replication was used. The factors were NaOH conscetration (0,3 %, 0,6%, 0,9%, 1,2% and 1,5%) with soaking duration at 60C (5 minute and 10 minute). Soaking in 1,5% NaOH conscentration at 60C for 10 minuted produced decortecated seeds brightly yellow coloured (*88,92 a*-1,89 and b* +11,79) and blach hylum a milling yield of 83,00% (d.b), a spericity of 9028,a bulk density of 0.7800 g/ml, a true density of 1,2087 g/ml, a water content of 11,93% (d.b), a carbohydrated content of 87,03% (d.b), a fat content of 2,91% (d.b), a crude fiber content of 1,45% (d.b), a ash content of 0,64 % (d.b), a tannin content of 0,09% (d.b) and a grain final pH of 6.75. Decorticated sorghum grain of the genotype 1.1 can be used as steamed rice, porridge and as material to produce flour, starch, cake, cookies, ect.
Indonesia memiliki penduduk ke-2 terbesar di dunia. Tinngginya jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan besar akan makanan pokok seperti beras, jagung dan tepung terigu. Dalam rangka memenuhi Ketahanan Pangan Nasional, salah satu alternatif pemecahan masalah ketersedian pangan baik tepung terigu maupun beras dapat di lakukan melalui subtitusi dengan biji sorghum (colas 1994 dikutip Suarni 2004).
Sorgum termasuk tanaman serealia serbaguna karena dapat di lakukan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri seperti industri gula, monosodium-glutamat, asam amino, dan industri minuman keras (Sirappa 2003).
Biji sorgum memiliki potensi yang besar untuk di kembangkan di indonesia dan di jadikan makanan pokok alternatif pengganti beras dan tepung terigu.
Meunurut Sirappa 2003, hal ini karena tanaman sorgum dapat tumbuh di daerah kering maupun tergenang air serta mampu berproduksi dengan baik sekalipun pada lahan marginal. dan tanaman ini juga tahan terhadap gangguan hama dan penyakit.
Menurut Dogget (1988), biji sorgum memiliki nilai gizi yang cukup baik karena mengandung karbohidrat 70%-90% protein 7,4% - 14,2% lemak 2,4%-6,5% serat kasar 1,2 %-3,5% dan juga beberapa mineral seperti Fe, P, dan Ca.
Kandungan biji sorgum yang baik dan biaya produksi yang rendah menyebabkan biji sorgum berpotensi untuk di manfaatkan sebagai bahan baku industri makanan dan pakan.
Permasalahan di dalam pemanfaatan sorgum sebagai pensubstitusi bahan pangan pokok lain adalah kandungan taninya yang tinggi yang mencapai 0,40%-3,60%.Tanin menimbulkan warna merah kecoklatan dan rasa sepet pada produk sorgum (Rooney dan sullins 1977). Tanin pada sorgum terdapat terutama di dalam lapisan testa (Plessis 1988).
Penyosohan biji sorgum perlu di lakukan untuk menghilangkan perikap dan testa yang mengandung tanin dari bagian endospermanya (Rooney dan miller 1982). Sisa perikarp yang menempel pada biji dan warna biji sorgum sangat memengaruhi penerimaan konsumen terhadap produk-produk olahan bahan baku sorgum,.Selain itu, lapisan testa pada biji sorgum mengandung senyawa fenol berupa tanin terkondensasi yang dapat berkaitan dengan prolamin (kafirin) membentuk ikatan kompleks protein-tanin, sehingga menurunkan daya cerna protein tersebut maupun protein-protein lain yang di konsumsi (Rooney dan Sullins 1977),-
Indonesia memiliki penduduk ke-2 terbesar di dunia. Tinngginya jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan besar akan makanan pokok seperti beras, jagung dan tepung terigu. Dalam rangka memenuhi Ketahanan Pangan Nasional, salah satu alternatif pemecahan masalah ketersedian pangan baik tepung terigu maupun beras dapat di lakukan melalui subtitusi dengan biji sorghum (colas 1994 dikutip Suarni 2004).
Sorgum termasuk tanaman serealia serbaguna karena dapat di lakukan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri seperti industri gula, monosodium-glutamat, asam amino, dan industri minuman keras (Sirappa 2003).
Biji sorgum memiliki potensi yang besar untuk di kembangkan di indonesia dan di jadikan makanan pokok alternatif pengganti beras dan tepung terigu.
Meunurut Sirappa 2003, hal ini karena tanaman sorgum dapat tumbuh di daerah kering maupun tergenang air serta mampu berproduksi dengan baik sekalipun pada lahan marginal. dan tanaman ini juga tahan terhadap gangguan hama dan penyakit.
Menurut Dogget (1988), biji sorgum memiliki nilai gizi yang cukup baik karena mengandung karbohidrat 70%-90% protein 7,4% - 14,2% lemak 2,4%-6,5% serat kasar 1,2 %-3,5% dan juga beberapa mineral seperti Fe, P, dan Ca.
Kandungan biji sorgum yang baik dan biaya produksi yang rendah menyebabkan biji sorgum berpotensi untuk di manfaatkan sebagai bahan baku industri makanan dan pakan.
Permasalahan di dalam pemanfaatan sorgum sebagai pensubstitusi bahan pangan pokok lain adalah kandungan taninya yang tinggi yang mencapai 0,40%-3,60%.Tanin menimbulkan warna merah kecoklatan dan rasa sepet pada produk sorgum (Rooney dan sullins 1977). Tanin pada sorgum terdapat terutama di dalam lapisan testa (Plessis 1988).
Penyosohan biji sorgum perlu di lakukan untuk menghilangkan perikap dan testa yang mengandung tanin dari bagian endospermanya (Rooney dan miller 1982). Sisa perikarp yang menempel pada biji dan warna biji sorgum sangat memengaruhi penerimaan konsumen terhadap produk-produk olahan bahan baku sorgum,.Selain itu, lapisan testa pada biji sorgum mengandung senyawa fenol berupa tanin terkondensasi yang dapat berkaitan dengan prolamin (kafirin) membentuk ikatan kompleks protein-tanin, sehingga menurunkan daya cerna protein tersebut maupun protein-protein lain yang di konsumsi (Rooney dan Sullins 1977),-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar