Senin, 24 Oktober 2011

Analisis Teknik Mesin Ekstraktor Vakum untuk Pembuatan Pasta Tomat

Pasta tomat adalah lumatan tomat yang ditingkatkan konsentrasinya melalui proses evaporasi. Pasta tomat dibuat dari buah tomat segar yang dihancurkan dan dipisahkan dari kulit dan bijinya selanjutnya mengalami proses evaporasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kelayakan teknis mesin ekstraktor vakum.Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis melalui pengukuran dan perhitungan menggunakan persamaan-persamaan matematika yang sudah baku untuk mengetahui kinerja mesin pada setiap tahapan proses yang terlibat seperti penguapan air pada tomat, kebutuhan tekanan vakum, kebutuhan air untuk pompa vakum serta kebutuhan energi untuk keseluruhan mesin. Hal ini kemudian digunakan untuk menilai mengenai kelayajan teknis dari mesin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa komponen mesin seperti pompa vakum dan kondensor tidak mampu menunjukkan kinerja seperti yang diharapkan dalam melakukan proses pembuatan pasta buah tomat. Hal ini menyebabkan kapasitas maksimum mesin dalam satu kali proses hanya sebanyak 9,89 liter dengan waktu proses evaporasi selama 150 menit.



1.1       Latar Belakang
Bahan pangan pada umumnya tidak selalu dikonsumsi secara langsung tetapi diolah terlebih dahulu menjadi berbagai jenis produk pangan lainnya. Selain untuk menambah keanekaragaman pangan, pengolahan pangan juga bertujuan untuk memperpanjang masa simpan.
Semua bahan pangan yang dihasilkan dari komoditas pertanian memiliki kadar air yang tinggi sehingga merupakan media terjadinya kerusakan. Untuk mempertahankan nilai nutrisi yang terkandung dalam bahan pangan, maka diperlukan suatu pengolahan yang tepat sehingga masa simpan, nilai guna, serta nilai tambahnya meningkat.
Buah sebagai komoditas pertanian memiliki masa simpan yang singkat sehingga memerlukan pengolahan untuk memperpanjang masa simpannya. Pengolahan untuk memperpanjang masa simpan buah memiliki berbagai macam bentuk, di antaranya dengan dibuat menjadi asinan, manisan, pasta, sirup, dan serbuk.
Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi penghasil hortikultura terbesar dengan empat komoditas unggulan yaitu kubis, tomat, kentang, dan cabai merah. Sentra penghasil tomat terbesar (sekitar 40%) berada di Kabupaten Bandung (Bappeda Jabar, 2007). Pada tahun 2007, hingga bulan Agustus, produksi tomat di Jawa Barat mencapai 153.720 ton dengan luas areal produksi 5.802 ha (Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, 2007).
Tomat merupakan salah satu komoditas yang harganya fluktuatif bahkan tidak jarang pada masa panen raya tomat tidak memiliki harga jual sama sekali sehingga banyak yang tidak termanfaatkan. Diversifikasi produk olahan merupakan salah satu cara mengatasi anjloknya harga pada saat panen raya (BPTP Jawa Barat, 2000).
Buah tomat akan segera mengalami kerusakan jika tanpa perlakuan saat penyimpanan, dan hanya akan bertahan selama 7 hari pada suhu kamar (Sinaga, 1984).
Seiiring dengan berkembangnya teknologi pengolahan pangan, tomat tidak hanya dikonsumsi segar tetapi juga digunakan sebagai bahan baku industri pengolahan saus, pasta tomat atau pengalengan tomat. Sekarang ini, industri-industri pengguna pasta tomat masih memprioritaskan pasta tomat impor sebagai bahan baku dikarenakan belum adanya industri dalam negeri yang dapat memproduksi pasta tomat dengan standard kualitas yang dapat memenuhi kebutuhan untuk diolah lebih lanjut menjadi produk lanjutan.
Makin maraknya industri saus yang berbahan dasar pasta tomat mengakibatkan impor pasta tomat meningkat. Walaupun potensi tomat di Indonesia khususnya di Jawa Barat melimpah, tetapi sampai sekarang belum ada industri pengolahan pasta tomat di Indonesia.
UPTD BPT Mekanisasi Provinsi Jawa Barat telah merancang bangun suatu mesin pembuat pasta buah yaitu ekstraktor vakum. Mesin ini berupa mesin pembuat pasta buah dengan penambahan vakum sebagai komponen untuk mengkondisikan udara dalam tabung ekstraktor sehingga tekanan dalam tabung mendekati keadaan vakum.
Dengan penambahan vakum pada mesin tersebut, maka penguapan bubur buah dapat dilakukan pada suhu rendah. Karena semakin rendah tekanan uap air dalam tabung, maka akan semakin rendah pula titik didih air.
Akan tetapi, mesin tersebut belum diketahui kinerjanya sehingga belum diketahui sampai sejauh mana kemampuan dan kekurangan dari mesin tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan pengujian tentang kelayakan teknis dan kinerja mesin tersebut.

1.2       Identifikasi masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka permasalahan yang diidentifikasi adalah belum diketahuinya kelayakan teknis mesin pembuat pasta tomat (ekstraktor vakum).

1.3       Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji kelayakan teknis mesin ekstraktor vakum yang terdiri dari jumlah penguapan air, kebutuhan daya pompa dan kapasitas isap vakum, kinerja kondensor, kebutuhan minimal air selama proses evaporasi, serta besarnya energi yang dibutuhkan sehingga dapat diketahui sejauh mana kemampuan serta kekurangan dari ekstraktor vakum tersebut.

1.4         Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan:
1.       Dapat memberikan informasi kepada UPTD BPT Mekanisasi Provinsi Jawa Barat mengenai kelayakan teknis mesin ekstraktor vakum sehingga mesin tersebut dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam proses pembuatan pasta buah.
2.       Dapat memberikan informasi dasar kepada UPTD BPT Mekanisasi Provinsi Jawa Barat untuk perbaikan mesin sehingga mesin tersebut dapat berfungsi secara maksimal.

1.5     Kerangka Pemikiran
Untuk bahan pangan, terutama buah tomat, sangat mudah mengalami kerusakan. Hal ini menyebabkan masa simpan buah tomat sangat pendek. Untuk itu, sangat diperlukan suatu pengolahan buah tomat menjadi bentuk lain untuk memperpanjang masa simpannya. Salah satu cara untuk memperpanjang masa simpan buah tomat adalah dengan diproses menjadi bentuk pasta.
Buah tomat memiliki kandungan gizi yang sangat berguna bagi tubuh. Kebanyakan dari kandungan gizi tersebut tidak tahan terhadap perlakuan panas yang berlebihan. Pengolahan buah tomat pada suhu yang tinggi akan menyebabkan kandungan gizi pada buah tomat menjadi berkurang. Untuk itu, pengolahan buah tomat pada suhu yang rendah sangat diperlukan untuk mempertahankan kandungan gizi pada buah tomat tersebut.
Salah satu metode pembuatan pasta buah tomat yaitu metode evaporasi dengan menggunakan ekstraktor vakum. Mekanisme kerja ekstraktor vakum adalah dengan cara menguapkan bubur buah tomat secara evaporasi dalam suatu tabung ekstraktor dengan kondisi tertutup pada tekanan di bawah 1 atm. Hal ini mengakibatkan air dapat mendidih pada suhu rendah mendekati 0 oC.
Berdasarkan tabel hubungan antara tekanan dan sifat termodinamika air (Tabel 3), tekanan sebesar 7,5 cmHg akan mengakibatkan titik didih air menurun menjadi sebesar 45,8 oC. Dengan menginterpolasi data yang terdapat pada tabel, maka titik didih air pada tekanan 6 cmHg adalah sebesar 39,7 oC, sehingga proses evaporasi bubur buah tomat sudah dapat terjadi pada suhu setinggi 50 oC. Pada suhu setinggi itu, kandungan gizi pada buah tomat akan tetap terjaga saat proses kristalisasi berlangsung.
Penurunan tekanan dalam tabung ekstraktor dihasilkan dari pompa vakum yang terdapat pada mesin ekstraktor vakum tersebut. Pompa vakum yang digunakan berupa pompa water jet. Prinsip kerja pompa tersebut adalah mengalirkan air dalam tabung pendorong melalui suatu nozel yang terdapat pada tabung vakum. Mengalirnya air melalui nozel akan menyebabkan terjadinya perbedaan kecepatan. Dengan semakin bertambahnya kecepatan, maka udara dalam tabung ekstraktor akan terhisap keluar sehingga kondisi dalam tabung ekstraktor menjadi vakum.
Keberhasilan dari proses evaporasi dalam tabung ekstraktor sangat dipengaruhi oleh kinerja seluruh komponen mesin ekstraktor vakum. Proses evaporasi pada suhu rendah dipengaruhi oleh tekanan dalam tabung ekstraktor tersebut. Untuk itu, kapasitas isap vakum pada pompa harus dapat mencapai besarnya tekanan yang dibutuhkan.
Proses evaporasi yang terjadi dalam tabung ekstraktor sangat dipengaruhi oleh suhu larutan tomat yang diuapkan. Penguapan air dalam larutan tomat hanya dapat terjadi bila larutan tomat dipanaskan melebihi titik didih air yang terkandung dalam larutan tersebut. Untuk itu, energi yang diberikan harus sesuai dengan energi yang dibutuhkan selama proses berlangsung.

Tomat
Tomat sangat berguna bagi tubuh karena mengandung karbohidrat, protein dan lemak yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan (Tugiyono, 2005).
Nilai gizi tomat per 100 gram bahan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi Kimia Buah dan Sari Buah Tomat
Komponen Gizi
Tomat
Buah Muda
Buah Masak
Sari Buah
Energi (kal)
23,00
20
15
Protein (g)
2,00
1,00
1
Lemak (g)
0,70
0,3
0,2
Karbohidrat (g)
2,0
4,2
3,5
Vitamin C (mg)
30
40
10
Air (g)
93
94
94
Sumber : Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI (1981) dikutip oleh  Wiryanta (2003).
Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat bahwa komponen gizi buah tomat menurun ketika buah tomat diolah menjadi sari buah tomat. Untuk pengolahan lebih lanjut, maka komponen gizi dari buah tomat tersebut akan semakin menurun.
Kerusakan komponen gizi antara lain disebabkan oleh suhu, air, udara, serta cahaya. Suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat mempercepat kerusakan buah tomat. Suhu dapat merusak baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu terjadinya perubahan sifat fisik dan secara tidak langsung adalah dengan mempercepat aktivitas enzim dan mikroba pembusuk. Pemanasan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan denaturasi protein, pemecahan emulsi lemak dan rusaknya vitamin. Pendinginan yang tidak diawasi juga dapat merusak bahan.
Udara, khususnya oksigen, dapat memercepat kerusakan lemak, yaitu dengan terjadinya ketengikan secara oksidatif pada buah tomat. Kerusakan ditandai dengan bau tengik karena terjadinya perubahan cita rasa. Oksigen dapat merusak vitamin A dan vitamin C. Oksigen juga dapat menimbulkan kerusakan warna, sehingga buah tomat menjadi pucat.
2.2        Pasta tomat
Pasta tomat merupakan salah satu produk olahan setengah jadi (intermediate product) dari hasil olahan buah tomat sebelum mengalami proses selanjutnya. Pasta tomat adalah lumatan tomat yang ditingkatkan konsentrasinya melalui proses evaporasi. Pasta tomat dibuat dari buah tomat segar yang dihancurkan dan dipisahkan dari kulit dan bijinya selanjutnya melalui proses evaporasi.
Menurut Gould (1992), pasta tomat adalah pekatan yang diperoleh dari tomat matang dengan atau tanpa pemanasan dan terbebas dari kulit dan bijinya serta mengandung total padatan tidak kurang dari 24%. Citarasa pasta tomat semaksimal mungkin dipertahankan seperti buah segarnya dengan teknik evaporasi.
Indonesia belum mempunyai standar mutu pasta tomat. Oleh karena itu, sebagai pembanding digunakan parameter analisis pasta tomat impor yaitu rata-rata dari tiap parameter mutu pasta tomat merk Heinz, Del Monte, S&W (Tabel 2).

Tabel 2. Rata-rata Karasteristik Pasta Tomat Impor
Parameter Analisis
Rataan
Kadar Air (%)
77,6
pH
4,82
Total Padatan Terlarut (o)
25,4
         Sumber : Bella, 2002

Pengadukan bubur buah tomat dalam alat penguapan merupakan hal yang penting. Kecepatan putar pengadukan mempengaruhi laju pindah kalor. Dengan kecepatan putar pengadukan bubur buah tomat yang baik, maka laju penguapan akan meningkat. Dengan meningkatnya laju penguapan, maka proses evaporasi pun akan semakin cepat.
Pengadukan dalam proses pengolahan sangat membantu pembuatan pasta tomat. Gesekan antara bubur buah tomat dan permukaan wadah mengakibatkan suhu di dalam wadah bertambah. Selain itu bubur buah tomat akan semakin mudah mengental karena semakin cepat perputaran maka luas permukaan akan semakin kecil.

Evaporasi
Menurut Masyithah (2006), secara umum evaporasi adalah menghilangkan kandungan air dari suatu larutan dengan cara mendidihkan larutan tersebut didalam suatu tabung yang disebut evaporator. Salah satu tujuan lain dari evaporasi adalah untuk mengurangi volume dari suatu produk sampai batas-batas tertentu tanpa menyebabkan kehilangan zat-zat yang mengandung gizi. Pengurangan volume, akan mengakibatkan turunnya biaya pengangkutan. Selain itu, juga akan meningkatkan efisiensi penyimpanan dan dapat membantu pengawetan, atas dasar berkurangnya jumlah air bebas yang dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk kehidupannya.
Menaikkan konsentrasi dari fraksi padatan di dalam suatu larutan adalah dengan menguapkan air bebas yang ada dalam larutan tersebut. Proses penguapan ini dilakukan dengan menaikkan suhu larutan sampai mencapai titik didihnya dan menjaganya untuk beberapa waktu sampai konsentrasi yang diinginkan.
Evaporasi tidak sama dengan pengeringan. Dalam evaporasi, sisa penguapan adalah zat cair, kadang-kadang zat cair yang sangat viskos, dan bukan zat padat. Evaporasi berbeda pula dari distilasi karena pada evaporasi, uap hasil proses biasanya merupakan komponen tunggal, dan walaupun uap itu merupakan campuran, dalam proses evaporasi ini tidak ada usaha untuk memisahkannya menjadi fraksi-fraksi. Evaporasi berbeda dari kristalisasi karena evaporasi menitik beratkan pada pemekatan larutan dan bukan pembuatan zat padat atau kristal (Masyithah, 2006).
Kesetimbangan massa dapat digunakan untuk menentukan laju penguapan untuk mendapatkan derajat konsentrasi yang diinginkan. Hubungan ini dapat menentukan jumlah medium pemanas yang dibutuhkan untuk mencapai penguapan yang diinginkan. Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah pindah kalor yang terjadi dari medium pemanas ke larutan, dengan memperhatikan bahwa kebutuhan luas permukaan pindah kalor tidak akan dapat dihitung tanpa terlebih dahulu menduga koefisien pindah kalor keseluruhan bagi permukaan pemanas (Wirakartakusuma, 1989).
Banyaknya padatan yang ada pada larutan akan mengakibatkan titik didih yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan titik didih dari air pada tekanan yang sama. Perbedaan titik didih ini menjadi lebih besar seiring dengan bertambah tingginya konsentrasi larutan (Anonim, 2004).

2.3.1  Evaporator
Kebanyakan evaporator dipanaskan menggunakan uap yang dikondensasikan di atas tabung logarm. Bahan yang dievaporasikan biasanya mengalir di dalam tabung. Uap yang digunakan biasanya adalah uap bertekanan rendah, yaitu di bawah 1 atm. Zat cair yang mendidih biasanya berada dalam keadaan vakum sedang, yaitu kira- kira 0,05 atm. Berkurangnya titik didih zat cair menyebabkan beda suhu antara uap dan zat cair yang mendidih itu meningkat, sehingga laju perpindahan kalor di da1am evaporator itu meningkat pula (McCabe, 1993).
Bila menggunakan satu evaporator, uap dari zat cair yang mendidih dikondensasikan dan dibuang. Metoda ini disebut sebagai evaporasi efek-tunggal (single-effect evaporation). Walaupun sederhana, namun proses ini tidak efektif dalam penggunaan uap. Untuk menguapkan l lb air dari larutan, diperlukan 1 sampai 1,3 lb uap. Jika uap dari satu evaporator dimasukkan ke dalam rongga uap (steam chest) evaporator kedua, dan uap dari evaporator kedua dimasukkan ke dalam kondensor, maka operasi ini akan menjadi efek ganda (double effect).
Kalor uap yang semula digunakan lagi dalam efek yang kedua, dan evaporasi yang didapatkan oleh satu satuan masa uap yang dimasukkan ke dalam efek pertama, menjadi harmpir lipat dua. Efek ini dapat ditambah lagi dengan cara yang sama. Metoda yang umum digunakan untuk meningkatkan evaporasi per lb uap dengan menggunakan sederatan evaporator antara penyediaan uap dan kondenser itu disebut sebagai evaporasi efek-berganda (multiple effect evaporation).

2.3.2 Jenis-jenis Evaporator
Menurut McCabe (1993), jenis-jenis utama evaporator tabung dengan pemasukan uap yang lazim dipakai adalah:
1.       Evaporator tabung horizontal
Evaporator tabung horizontal sebagaimana yang ditunjukkan pada Gambar 2 adalah merupakan evaporator jenis klasik yang telah lama digunakan. Larutan yang akan dievaporasikan berada di luar tabung horizontal dan uap mengalir di dalam tabung horizontal. Tabung horizontal diliputi dan dikelilingi oleh sirkulasi yang alami dari cairan yang mendidih sehingga meminimumkan pengadukan cairan. Sebagai hasilnya maka pada evaporator jenis ini dijumpai koefisien perpindahan panas keseluruhan yang lebih rendah berbanding pada evaporator jenis lain, ini bermanfaat khususnya untuk mengevaporasikan larutan yang viskos. Koefisien keseluruhan yang berada antara 200-400 BTU/jam.ft2.oF (1100-230-
W/m2K) akan didapatkan, yang tergantung pada perbedaan suhu keseluruhan, suhu didih, dan sifat larutan yang dievaporasikan. Evaporator tabung horizontal biasanya digunakan untuk kapasitas yang kecil dan untuk mengevaporasikan larutan yang encer dan larutan ini tidak berbusa dan tidak meninggalkan deposit padatan pada tabung evaporator (McCabe, 1993).
Evaporator satu lintas
Evaporator ini merupakan pengembangan dari evaporator tabung panjang. Pada kedua evaporator ini larutan mendidih di dalam tabung vertikal dan media pemanas di luar tabung vertikal. Media pemanas yang digunakan biasanya uap yang terkondensasi. Pada evaporator satu lintas, cairan bahan dilewatkan melalui tabung hanya satu kali lewat saja, uapnya lepas dan keluar dari unit itu sebagai cairan pekat. Seluruh evaporasi dilaksanakan dalam satu lintas saja (McCabe, 1993).
Pendidihan atau pemanasan cairan di dalam tabung akan menyebabkan aliran naik ke atas melewati tabung, dan cairan yang tidak menguap mengalir ke bawah dan keluar melalui anulus yang terletak di bahagian dasar evaporator. Pada instalasi yang besar, terdapat beberapa lubang keluaran cairan atau produk dan tidak hanya satu seperti ditunjukkan pada Gambar 3.
Gambar 3. Evaporator Satu Lintas (McCabe, 1993)
3.       Evaporator vertikal tabung panjang
Evaporator vertikal tabung panjang mempunyai lubang masuk masing-masing untuk zat cair bahan dan untuk uap, lubang keluar masing-masing untuk uap, cairan pekat, kondensat uap, dan gas takmampu kondensasi yang terkandung dalam uap. Zat cair dan uap mengalir ke atas di dalam tabung sebagai akibat dari peristiwa didih zat cair yang terpisah kembali ke dasar tabung dengan gravitasi (McCabe, 1993).
Bahan encer, biasanya pada suhu di sekitar suhu kamar, masuk ke dalam sistem dan bercampur dengan zat cair yang kembali dari separator. Bahan itu mengalir ke atas di dalam tabung sebagai zat cair pada jarak tertentu, yang tidak panjang, sambil menerima kalor dari uap. Di dalam zat cair itu terbentuk gelembung-gelembung sehingga meningkatkan kecepatan liniernya dan meningkatkan laju perpindahan panas. Di dekat puncak tabung, gelembung itu bertambah besar dengan cepat. Pada zone ini gelembung uap berganti-ganti dengan potongan zat cair dalam tabung naik dengan cepat melalui tabung dan keluar dengan kecepatan tinggi dari ujung atas tabung.
Dari tabung itu, campuran zat cair selanjutnya masuk ke dalam separator. Diameter separator itu lebih besar dari diameter penukar panas, sehingga kecepatan linier uap menjadi jauh berkurang. Untuk membantu pemisahan tetes-tetes zat cair, uap itu dibuat menumbuk seperangkat sekat, lalu mengalir melewati sekat itu sebelum keluar dari separator.
Gambar 4. Evaporator Vertikal Tabung Panjang (McCabe, 1993)
4.       Evaporator tabung paksa
Pada evaporator sirkulasi paksa, caitan yang akan dievaporasikan dipompakan melewati penukar panas (heat exchanger) dimana media pemanas mengelilingi pipa-pipa yang membawa cairan yang akan dievaporasikan. Gabungan penurunan tekanan dan head hidrostatik di dalam alat ini adalah cukup besar untuk mencegah larutan mendidih di dalam pipa penukar panas, sehingga uap yang dihasilkan akan tersembur keluar, pada saat cairan memasuki ruang kosong di dalam tabung (McCabe, 1993).
Gambar 5. Evaporator Tabung Paksa (McCabe, 1993)
2.3.3  Pindah Kalor dalam Evaporator
Proses evaporasi dalam evaporator merupakan suatu proses dalam ruangan tertutup. Sistem yang berlaku di dalamnya adalah sistem tertutup, yang berarti dalam evaporator tersebut terjadi perpindahan energi (kalor dan kerja) tetapi tidak terjadi perpindahan massa ke lingkungan.
Sesuai dengan hukum kekekalan massa yang mengatakan bahwa massa tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, maka berat massa suatu zat sebelum dan sesudah proses adalah sama. Sehingga berat massa produk yang dihasilkan adalah sama dengan berat massa yang diproses. Yang terjadi dalam proses tersebut adalah perpindahan energi dalam evaporator ke lingkungan.
Besarnya perpindahan energi yang terjadi dalam proses tersebut adalah sesuai dengan hukum termodinamika pertama. Hukum tersebut menyatakan bahwa perubahan energi dalam suatu sistem termodinamika tertutup adalah sama dengan total dari jumlah energi kalor yang disuplai ke dalam sistem dan kerja yang dilakukan terhadap sistem (McCabe, 1993).
Hukum kesetimbangan massa menyatakan laju energi yang masuk ke dalam sistem dikurangi dengan laju energi yang keluar dari sistem sama dengan laju energi akumulasinya (Geankoplis, 1983).
Ein – Eout = Est .............................................................. (1)
Dimana:
Ein    : Energi yang masuk ke sistem
Eout : Energi yang keluar dari sistem
Est     : Energi yang terakumulasi dalam sistem
Mekanisme perpindahan energi (kalor) yang terjadi dalam proses evaporasi dapat berupa konduksi maupun konveksi.
a.              Konduksi (keadaan steady)
Suatu material bahan mempunyai gradient, maka kalor akan mengalir tanpa disertai oleh suatu gerakan zat. Aliran kalor seperti ini disebut konduksi atau hantaran. Konduksi thermal pada logam - logam padat terjadi akibat gerakan elektron yang terikat dan konduksi thermal mempunyai hubungan dengan konduktivitas listrik. Pemanasan pada logam berarti pengaktifan gerakan molekul, sedangkan pendinginan berarti pengurangan gerakan molekul (Geankoplis, 1983).
Contoh perpindahan kalor secara konduksi antara lain adalah perpindahan kalor pada logam cerek pemasak air atau batang logam pada dinding tungku. Laju perpindahan kalor secara konduksi sebanding dengan gradien suhu (Geankoplis, 1983).
 .................................................................... (2)
Dimana:
q   = nilai perpindahan kalor (W)
k   = konduktivitas thermal (W/m.K)
A = luas permukaan bahan (m2)
T   = suhu (K)
x   = tebal bahan (m)
Gambar 6. Konduksi pada Dinding Datar (Geankoplis, 1983)
Laju perpindahan kalor secara konduksi pada silinder mempunyai perbedaan dengan laju perpindahan kalor secara konduksi pada pelat / balok, karena beda persamaan luas bidang permukaan (Geankoplis, 1983).
 .......................................................... (3)
 .............................................................. (4)
Dimana:
q     = nilai perpindahan kalor (W)
k     = konduktivitas thermal (W/m.K)
Alm = luas permukaan silinder (m2)
T     = suhu (K)
r      = jari-jari silinder (m)
Gambar 7. Perpindahan Kalor Secara Konduksi pada Silinder (Geankoplis, 1983)
b.             Konveksi
Arus fluida yang melintas pada suatu permukaan, maka akan ikut terbawa sejumlah enthalphi. Aliran enthalphi ini disebut aliran konveksi kalor atau konveksi. Konveksi merupakan suatu fenomena makroskopik dan hanya berlangsung bila ada gaya yang bekerja pada partikel atau ada arus fluida yang dapat membuat gerakan melawan gaya gesek (McCabe, 1993).
Contoh sederhana pepindahan kalor secara konveksi adalah aliran air yang dikalorkan dalam belanga. Berdasarkan gaya penyebab terjadinya arus aliran fluida, konveksi dapat diklasifikasikan :
1.        Konveksi alamiah
Konveksi alamiah dapat terjadi karena ada arus yang mengalir akibat gaya apung, sedangkan gaya apung terjadi karena ada perbedaan densitas fluida tanpa dipengaruhi gaya dari luar sistem. Perbedaan densitas fluida terjadi karena adanya gradien suhu pada fluida. Contoh konveksi alamiah antara lain aliran udara yang melintasi radiator kalor (McCabe, 1993).
2.        Konveksi paksa
Konveksi paksa terjadi karena arus fluida yang terjadi digerakkan oleh suatu peralatan mekanik ( contoh : pompa, pengaduk ), jadi arus fluida tidak hanya tergantung pada perbedaan densitas. Contoh perpindahan kalor secara konveksi paksa antara lain : pemanasan air yang disertai pengadukan.
Gambar 8. Ilustrasi Aliran Fiuda pada Konveksi Alamiah dan Paksa (McCabe, 1993)
2.4    Ekstraktor vakum
Ekstraktor vakum merupakan suatu mesin pembuat pasta buah dengan penambahan vakum sebagai salah satu komponennya. Vakum tersebut berfungsi untuk mengkondisikan udara dalam tabung ekstraktor sehingga tekanan dalam tabung mendekati keadaan vakum.
Dengan penambahan vakum pada mesin tersebut, maka penguapan bubur buah dapat dilakukan pada suhu rendah. Karena semakin rendah tekanan uap air dalam tabung, maka akan semakin rendah pula titik didih air.
2.4.    Pemvakuman
Vakum dianggap sebagai kondisi dimana tekanan udara lebih rendah dari tekanan udara normal. Vakum dibagi menjadi vakum rendah, vakum tinggi, dan vakum ultra tinggi.
Melalui serangkaian pengujian yang dilakukan oleh Achmad Yahya (2008), ternyata didapatkan bahwa proses pemvakuman dapat menurunkan nilai RH udara dalam lingkungan yang divakum tersebut. Hal ini sebenarnya juga dapat dijelaskan secara teori, di mana RH adalah hasil pembagian antara tekanan parsial uap air (Pw) dengan tekanan parsial uap air pada saat jenuh (Pws). Kedua besaran tersebut mengalami penurunan yang tidak sama besar pada saat proses vakum terjadi. Turunnya nilai Pw dipengaruhi langsung oleh banyaknya molekul air yang tersedot oleh pompa vakum, sedangkan nilai Pws dipengaruhi oleh suhu, yang mana suhu di sini relatif konstan, kalaupun turun hanya sedikit. Hal ini menyebabkan penurunan nilai Pw lebih besar dari penurunan nilai Pws, sehingga nilai RH juga akan turun.
Rasio kelembaban merupakan simbol dari daya tampung udara terhadap uap air. Proses pemvakuman dapat meningkatkan nilai rasio kelembaban, walaupun tidak signifikan. Semakin rendah pemvakuman yang dilakukan maka semakin tinggi nilai rasio kelembaban. Ini berarti semakin besar daya tampung udara terhadap uap air. Dengan kata lain, semakin besar pula kapasitas penguapan yang akan diperoleh.
2.4.2  Mekanisme Kerja Ekstraktor Vakum
Ekstraktor vakum cocok untuk bahan pangan berbentuk bubur. Bahan pangan berbentuk bubur tersebut ditempatkan dalam suatu tabung tertutup yang didalamnya terdapat suatu pengaduk. Bubur dalam tabung dipanaskan dengan cara memanaskan air yang mengelilingi tabung tersebut.
Tekanan (Pa)
 
Selama pemanasan, bubur tersebut diaduk dengan menggunakan pengaduk berupa batang bersirip yang digerakkan oleh suatu motor penggerak. Hal ini dimaksudkan agar kalor yang diterima oleh bubur menjadi seragam. Selama pemanasan tersebut pula, pompa vakum dinyalakan. Pompa tersebut akan mengalirkan air melalui nozel yang terdapat pada tabung vakum. Di dalam nozel, air akan mengalami penyempitan sehingga kecepatan aliran air tersebut menjadi bertambah cepat. Dengan semakin bertambahnya kecepatan aliran air, maka akan tercipta perbedaan tekanan yang sangat tinggi. Tekanan dalam pompa vakum akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan tekanan dalam tabung ekstraktor sehingga udara dalam tabung ekstraktor akan terhisap keluar dan tekanan dalam tabung ekstraktor menjadi rendah yaitu di bawah 1 atm.


Suhu (oC)
 
Gambar 9. Diagram Perubahan Fase Dari Air (IAPWS, 1997)
Seperti terlihat dalam Gambar 9, dengan semakin rendahnya tekanan, maka titik didih air akan semakin rendah pula. Apabila tekanan dalam tabung ekstraktor berada di bawah 1 atm, air dalam bubur dapat mendidih pada suhu rendah mendekati 0 oC. Ketentuan inilah yang menjadi dasar mekanisme kerja ekstraktor vakum tersebut.
Tabel 3. Hubungan Tekanan dengan Sifat Termodinamika Air
Tekanan Uap Air (cmHg)
Titik Didih (oC)
Kalor Laten Penguapan (kJ/kg)
Volume Jenis (m3/kg)
0,45
    0,01
2.501,3
206,3
0,75
    7
2.484,9
129,2
2,40
  25
2.442,3
  43,4
7,50
  45,8
2.392,8
  14,7
76
100
2.257
    1,7
Sumber : Reichsansalt, Holborn, Scheel, and Henning, 1909
Mekanisme kerja ekstraktor vakum adalah berdasarkan bahwa penurunan tekanan akan menyebabkan turunnya titik didih air dalam bubur. Kevakuman dalam tabung ekstraktor menentukan besarnya kalor yang dibutuhkan untuk evaporasi. Semakin rendah tekanan dalam tabung ekstraktor, maka semakin rendah pula titik didih air dalam bubur sehingga kalor yang dibutuhkan pun akan semakin sedikit.
Proses evaporasi dalam tabung ekstraktor akan menghasilkan uap panas. Uap panas tersebut akan terhisap keluar melalui kondensor. Di dalam kondensor, uap panas akan mengalami kondensasi sehingga berubah fasa menjadi cair. Air yang mengalami proses kondensasi (kondensat) akan ditampung di dasar kondensor sedangkan udaranya akan dikeluarkan menuju tabung vakum.
2.4.3   Bagian Utama dan Kegunaan Komponen Ekstraktor Vakum
a.              Tabung Ekstraktor
Tabung ekstraktor terbuat dari stainless steel yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses evaporasi. Bentuk dari tabung ekstraktor adalah silinder. Pada tutup tabung terdapat suatu pengaduk. Pengaduk tersebut merupakan sebuah batang bersirip yang digerakkan oleh sebuah motor sehingga pengaduk tersebut dapat berputar. Pengaduk tersebut berfungsi untuk mengaduk bubur tomat selama proses evaporasi berlangsung.
b.             Pompa Vakum
Pompa vakum merupakan komponen terpenting pada alat ekstraktor vakum. Pompa ini berfungsi sebagai alat penghisap udara dalam tabung ekstraktor sehingga tekanan dalam tabung menjadi lebih rendah dari lingkungan dan uap air dari bahan dapat dikeluarkan.
Pompa yang digunakan adalah pompa water jet dan digerakkan dengan motor listrik. Pompa ini mensirkulasikan air dalam bak penampung air ke dalam tabung vakum. Fluida bertekanan tinggi dari pompa akan dialirkan memasuki nozel yang terdapat pada tabung vakum yang terhubung dengan tabung ekstraktor. Dengan semakin bertambahnya kecepatan fluida, maka udara dalam tabung ekstraktor akan terhisap ke luar sehingga tabung ekstraktor akan menjadi vakum. Pompa water jet dipilih karena cara mengoperasikan dan pemeliharaannya mudah, serta biaya operasinya rendah.
c.              Kondensor
Kondensor berfungsi untuk mengembunkan uap air panas yang dikeluarkan selama proses evaporasi dengan menggunakan media air sebagai pendingin yang disirkulasikan di dalam bak air. Kondensor berupa tabung dengan lilitan pipa tembaga yang dialiri air pada bagian dalamnya. Untuk menampung kondensat, pada bagian bawah tabung kondensor dilengkapi dengan tabung penampung air.
d.             Bak Penampung
Bak penampung air berfungsi sebagai tempat penampungan air yang digunakan dan disirkulasikan oleh pompa water jet. Bak penampung air berupa kotak berisi air yang disirkulasikan oleh pompa water jet untuk mengkondisikan udara dalam tabung ekstraktor agar tekanan dalam tabung ekstraktor menjadi rendah sehingga proses evaporasi dapat dilakukan pada suhu rendah.
e.              Sumber Tenaga
Sumber tenaga merupakan sumber energi yang digunakan untuk menggerakkan atau menjalankan ekstraktor vakum. Sumber tenaga yang digunakan untuk menjalankan ekstraktor vakum ini adalah listrik dengan tegangan 220 Volt.
f.              Thermostat
Thermostat berfungsi untuk mengatur suhu yang digunakan dalam proses evaporasi.
3.1    Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret - April 2010, bertempat di Unit Pelaksana Teknis Dinas Balai Pengembangan Teknologi (UPTD BPT) Mekanisasi Pertanian Jawa Barat yang terletak di Kecamatan Bojong Picung, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
3.2    Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1.            Ekstraktor vakum, digunakan untuk proses pembuatan pasta buah tomat;
2.            Thermostat, digunakan untuk mengatur tingginya suhu yang digunakan dalam proses evaporasi;
3.            Clamp ampere meter, digunakan untuk mengukur besarnya kuat arus yang diperlukan selama proses berlangsung;
4.            Thermometer infrared, digunakan untuk mengukur suhu bubur tomat selama proses berlangsung;
5.            Blender, digunakan untuk membuburkan buah tomat menjadi bubur tomat;
6.            Kompor, digunakan untuk memanaskan air yang digunakan pada saat pencelupan buah tomat untuk mempermudah pelepasan kulit tomat;
7.            Panci, digunakan untuk menampung air panas untuk pencelupan tomat;
8.            Pisau, digunakan untuk memotong buah tomat pada saat pemisahan daging dan bijinya;
9.            Timbangan, digunakan untuk menimbang buah tomat sebelum dan setelah proses berlangsung;
10.        Gelas ukur, digunakan untuk mengukur volume bubur tomat;
11.        Pengukur waktu, digunakan untuk mengukur waktu proses; dan
12.        Meteran, digunakan untuk mengukur panjang dimensi mesin.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1.           Buah tomat; dan
 2.      Air.
3.3         Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis melalui pengukuran dan perhitungan menggunakan persamaan-persamaan sehingga diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kelayakan teknis dari ekstraktor vakum dan dapat menarik kesimpulan untuk melakukan modifikasi terhadap mesin tersebut sehingga kinerjanya lebih efektif dan efisien.
3.3         Peubah yang Diukur
3.3.1   Analisis Teknik
1.             Kapasitas teoritis mesin
Karena berbentuk tabung, maka persamaan perhitungan volume maksimal ekstraktor vakum buah dapat dilihat di bawah ini :
.............................................................................. (5)
Dimana : 
= volume maksimal tabung ekstraktor (l)
π     = 3,14
r      = jari-jari tabung ekstraktor (m)
t      = tinggi tabung ekstraktor (m)
2.             Pompa vakum
Untuk menurunkan tekanan dalam tabung ekstraktor digunakan pompa vakum sistem water jet.
Kecepatan aliran air dari pompa dihitung menggunakan persamaan berikut:
............................................................................................. (6)
Dimana :
v     = kecepatan aliran air (m/s)
Q    = debit air yang keluar dari pompa (m3/s)
A     = luas penampang pipa (m2)
Head loss akibat gesekan pada pipa menurut persamaan Darcy (Henderson-Perry, 1954):
 ........................................................................... (7)
Dimana :
hf    = head loss akibat gesekan pada pipa (m)
f      = koefisien gesek dalam pipa
L     = panjang pipa (m)
D    = diameter dalam pipa (m)
v     = kecepatan aliran air (m/s)
g     = percepatan gravitasi (9,81 m/s2)
Untuk mencari debit aliran air yang masuk ke dalam tabung vakum digunakan persamaan:
A ....................................................... (8)
Dimana :
Q    = debit aliran air yang masuk ke dalam tabung vakum (m3/s)
inlet
 
 

v1
A1
 
Ptabung ekstraktor
 
P2
 
P1
 
v2
A2
 

 

 
outlet
 
Description: Description: Description: Description: Description: vakum.jpg
Gambar 11. Aliran Air Pada Pompa Vakum
Untuk mencari besarnya tekanan pada inlet menggunakan persamaan (Reuben dan Steven):
  ........................................................................ (9)
Untuk mencari kecepatan aliran air pada penampang nozel menggunakan persamaan kontinuitas berikut:
 .............................................................................. (10)
Untuk mencari head loss akibat penyempitan saluran pada nozel digunakan persamaan berikut:
 .............................................. (11)
Untuk mengetahui perbedaan tekanan digunakan persamaan Bernoulli seperti di bawah ini:
 .............................................. (12)
 ......................................................... (13)
 .......................................................... (14)
Dimana:
P1   = tekanan pada inlet (kg/m2)
P2   = tekanan pada outlet (kg/m2)
v1    = kecepatan aliran air pada inlet (m/s)
v2    = kecepatan aliran air pada outlet (m/s)
z      = elevasi pada titik tertentu (m)
hL    = head loss akibat penyempitan pipa (m)
A1   = luas permukaan pada inlet (m2)
A2   = luas permukaan pada outlet (m2)
C    = konstanta
Daya pompa dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (Henderson-Perry, 1954):
Daya (HP) =  ................................................................. (15)
Dimana :
Q    = debit aliran air pada pompa (m3/s)
γ      = berat jenis air (kg/m3)
H    = total head pemompaan (m)
eff   = efisiensi pompa
3.             Kondensor
Panjang minimum lilitan pada tabung kondensor dihitung dengan persamaan:
h =  .......................................................................................... (16)
Dimana:
h     =   panjang minimum lilitan pada tabung (m)
ΔP  =   perbedaan tekanan atmosfer dengan tekanan dalam tabung ekstraktor (kg/m2)
g     =   percepatan gravitasi (m/s2)
Jumlah air yang dibutuhkan untuk mengkondensasi uap hasil evaporasi dapat dihitung dengan persamaan:
W =  ............................................................................. (17)
Dimana:
W    = laju aliran massa air dingin yang dibutuhkan (kg/s)
V     = laju aliran massa uap yang akan dikondensasi (kg/s)
hg    = entalpi spesifik uap yang akan dikondensasi (MJ/kg)
hfc   = entalpi spesifik kondensat (MJ/kg)
hfw   = entalpi spesifik air dingin yang memasuki kondensor (MJ/kg)
Volume ruang penampung kondensat pada kondensor:
V = πr2t ....................................................................................... (18)
Dimana:
V     = volume ruang penampung kondensat (m3)
r      = jari-jari kondensor (m)
t      = tinggi ruang penampung (m)
4.             Tabung Ekstraktor
Tebal minimum tabung terhadap kemungkinan belah dapat dihitung menggunakan persamaan berikut (Singer dan Pytel, 1995):
tb =  ...................................................................................... (19)
Dimana:
tb     = tebal minimal tabung terhadap kemungkinan belah (mm)
di    = diameter dalam tabung (m)
P     = tekanan di dalam tabung (N/m2)
σt    = tegangan tarik yang diizinkan (N/m2)
5.             Kebutuhan air total
Volume air yang dibutuhkan selama proses pembuatan pasta buah tomat didapat dari hasil penjumlahan dari air yang dibutuhkan dalam kondensor dengan air yang dibutuhkan untuk memvakumkan tabung ekstraktor. Kebutuhan air total dapat didapat melalui persamaan:
Vtotal = Vkondensat + Vpompa vakum  ................................................... (20)
6.             Jumlah air yang diuapkan
Jumlah massa air yang diuapkan:
 ................................................ (21)
Dimana :
m    = jumlah massa air yang diuapkan (kg)
m1   = berat bubur tomat yang diproses (kg)
m2   = berat pasta tomat yang dihasilkan (kg)
ka1  = kadar air awal (%)
ka2  = kadar air akhir (%)
7.             Kalor yang dibutuhkan
Kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu tabung dan air sampai mencapai suhu yang diinginkan:
  ................................................... (22)
Dimana :
    =   kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu tabung dan air sampai mencapai suhu yang diinginkan (J)
ma   =   massa air (kg)
Cpa  =   kalor spesifik air (kJ/kgoC)
ΔTa =   perbedaan antara suhu setting dan suhu awal air (oC)
ms   =   massa stainless steel (kg)
Cps  =   kalor spesifik stainless steel (kJ/kgoC)
ΔTs  =   perbedaan antara suhu setting dan suhu awal stainless steel (oC)
Kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu bubur tomat hingga mencapai suhu yang diinginkan dan menguapkan air bubur tomat hingga kadar air yang ingin dicapai :
  ........................................ (23)
Dimana :
    =   kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu bubur tomat hingga mencapai suhu yang diinginkan dan menguapkan air bubur tomat hingga kadar air yang ingin dicapai (J)
mt   =   massa bubur tomat (kg)
Cpt  =   kalor spesifik bubur tomat (kJ/kgoC)
ΔTt  =   perbedaan antara suhu setting dan suhu awal bubur tomat (oC)
8.             Kebutuhan tenaga
Kebutuhan tenaga atau daya yang diperlukan untuk melakukan proses evaporasi dapat dihitung dengan mengukur besarnya tegangan dan kuat arus yang terjadi pada saat proses berlangsung. Berikut persamaan yang dapat dipakai dalam perhitungan kebutuhan daya :
..................................................................................... (24)
 Dimana :              P     =  kebutuhan daya listrik (W)
I      =  kuat arus listrik (A)
V     =  tegangan listrik (V)
3.3.1   Prosedur Pengujian
Prosedur yang dilakukan dalam proses pembuatan pasta buah tomat dengan menggunakan ekstraktor vakum dibagi menjadi 3 tahap seperti terlihat pada Gambar 12:
1.            Pembuangan kulit dan biji tomat :
·      Pencucian. Pencucian berfungsi agar buah tomat yang akan diproses terbebas dari kotoran, misalnya debu, pestisida, dll.
·      Perendaman. Perendaman dengan menggunakan air bersuhu 90 oC selama 5 menit berfungsi agar tomat menjadi belah dan mempermudah pelepasan kulit.
·      Pembuangan biji. Pembuangan biji berfungsi untuk memisahkan daging buah tomat dari bijinya sehingga bagian tomat yang diproses benar-benar hanya daging buahnya.
2.            Pembuburan :
Pembuburan dilakukan menggunakan blender hingga seluruh daging buah hancur menjadi bubur. Pembuburan dilakukan agar fasa daging tomat menjadi seragam serta memperluas bidang pemanasan sehingga lebih mudah mendidih.
3.            Penurunan kadar air :
Proses pembuatan pasta buah tomat digunakan proses evaporasi dengan penurunan tekanan sebesar -58 cmHg pada suhu 60 oC.
4.1         Kapasitas Teoritis Mesin
Proses evaporasi pada mesin ekstraktor vakum berlangsung di dalam tabung ekstraktor. Volume bubur tomat yang dapat diproses dalam satu kali proses bergantung pada besarnya volume tabung ekstraktor tersebut. Untuk itu, kapasitas teoritis mesin dapat dihitung dengan cara menghitung volume tabung ekstraktor. Berdasarkan hasil pengukuran, ekstraktor vakum tersebut dapat memproses bubur tomat maksimal sebanyak 28,61 liter dalam satu kali proses (Lampiran 8).
Dengan pengaduk berkecepatan 10 rpm, maka bubur tomat sebanyak itu tidak dapat teraduk secara sempurna. Dengan tidak teraduknya bubur tomat secara sempurna pada saat proses evaporasi berlangsung, maka akan menyebabkan bubur tomat tidak dapat menerima kalor secara merata. Hal ini menyebabkan waktu proses yang dibutuhkan menjadi sangat lama sehingga akan terjadi penggosongan pada sebagian bubur tomat, terutama pada bagian yang bersinggungan dengan dinding tabung ekstraktor.
Untuk menghindari hal tersebut, maka volume bubur tomat yang dapat diproses adalah hanya sebatas tinggi sirip pengaduk yang terdapat pada batang pengaduk tersebut yaitu setinggi 14 cm atau sebanyak 9,89 liter. Hal ini akan menyebabkan bubur tomat akan teraduk secara sempurna sehingga kalor yang diterima bubur tomat pada saat proses berlangsung akan merata dan waktu proses yang dibutuhkan akan menjadi lebih singkat.
4.2         Kapasitas Hisap Vakum dan Daya Pompa
Dalam pembuatan pasta tomat yang bergizi baik, diperlukan proses evaporasi pada suhu dibawah 60 oC. Ini dilakukan karena vitamin C dalam tomat akan rusak pada suhu 60 oC. Untuk itu, kondisi vakum sangat diperlukan agar titik didih air dalam bubur tomat yang diproses pada suhu dibawah 60 oC.
Berdasarkan hasil analisis teknik, kemampuan pompa dapat menghasilkan penurunan tekanan hingga mencapai -73,32 cmHg (Lampiran 9). Dengan penurunan tekanan sebesar itu, maka air dalam bubur tomat dapat mendidih pada suhu 26,14 oC, sehingga kandungan gizi (khususnya vitamin C) tidak akan hilang dan waktu penguapan air akan lebih singkat serta kalor yang dibutuhkan dalam proses evaporasi akan lebih sedikit. Besarnya daya yang dibutuhkan oleh pompa untuk proses pembuatan pasta tomat adalah sebesar 2,64 HP.
Berdasarkan hasil pengukuran, kemampuan pompa hanya dapat menghasilkan penurunan tekanan sebesar -58 cmHg. Dengan penurunan tekanan sebesar itu, maka air dalam bubur tomat baru dapat mendidih pada suhu 54,1 oC (Lampiran 9).
Dalam penelitian, suhu bubur tomat saat proses evaporasi berlangsung adalah setinggi 53,6 oC. Dengan suhu setinggi itu, maka proses evaporasi tidak dapat berlangsung dengan baik, karena air dalam bubur tomat tidak dapat mencapai titik didihnya yaitu pada suhu 54,1 oC.
Perbedaan nilai penurunan tekanan antara hasil analisis teknik dengan hasil pengukuran disebabkan salah satunya karena terjadinya kebocoran dalam rangkaian mesin. Karena rangkaian ekstraktor vakum banyak menggunakan pipa sambungan, maka kerapatan antar pipa sambungan tersebut harus dijaga dengan baik. Kurang rapatnya sambungan antar pipa akan menyebabkan terjadinya kebocoran yang sangat sulit untuk diketahui letaknya.
Penyebab lainnya adalah perbedaan debit aliran air yang dihasilkan pompa. Dari hasil perhitungan, debit aliran air yang dihasilkan pompa untuk mengkondisikan tabung ekstraktor adalah sebesar 8,15 x 10-3 m3/s (Lampiran 9). Akan tetapi, pada saat pengukuran, debit aliran air yang dihasilkan pompa adalah sebesar 3,17 x 10-3 m3/s. Dengan debit aliran air sebesar itu, maka perbedaan kecepatan antara inlet dan outlet dalam nozel akan mengalami penurunan, sehingga tekanan yang dihasilkan pun akan berkurang.
4.3         Kondensor
Pada saat proses evaporasi berlangsung, udara dan uap panas yang dihasilkan dari proses evaporasi akan dihisap oleh pompa untuk dibuang keluar dari tabung ekstraktor. Udara dan uap panas yang terhisap akan terlebih dahulu melewati kondensor sebelum dibuang keluar dari tabung ekstraktor. Di dalam kondensor, udara dan uap panas hasil evaporasi akan dikondisikan. Udara dan uap panas akan mengalami proses kondensasi sehingga suhunya mengalami penurunan. Uap panas akan berubah fasanya menjadi air setelah proses kondensasi. Air hasil kondensasi (kondensat) akan ditampung dalam bak penampung kondensat yang berada pada dasar kondensor, sedangkan udara akan diteruskan untuk dibuang secara kontinyu ke dalam bak air.
Berdasarkan hasil perhitungan, kondensat yang dihasilkan setelah mengalami proses kondensasi akan memiliki suhu setinggi 20,39 oC. Debit air yang dibutuhkan untuk proses kondensasi adalah sebesar 1,8 x 10-4 m3/s (Lampiran 10). Menurut hasil pengukuran, suhu kondensat yang dihasilkan adalah setinggi 21 oC dengan debit air yang digunakan adalah sebesar 2,1 x 10-4 m3/s. Suhu kondensat berdasarkan hasil pengukuran tidak berbeda jauh dengan hasil analisis teknik. Hal ini disebabkan debit air yang digunakan untuk proses kondensasi telah mencukupi persyaratan debit minimum yang dibutuhkan untuk proses kondensasi.
Dari hasil perhitungan, panjang minimum pipa kondensor agar uap panas yang dihasilkan dapat mengembun adalah sebesar 9,96 m (Lampiran 10). Berdasarkan hasil pengukuran, panjang pipa kondensor yang digunakan adalah sebesar 10 m, sehingga panjang pipa kondensor yang digunakan telah mencukupi.
Bak penampung kondensat yang tersedia pada dasar kondensor dapat menampung kondensat sebanyak 2,49 liter (Lampiran 10), sedangkan jumlah air yang diuapkan dalam pembuatan pasta tomat adalah 3,208 liter. Untuk itu, agar dapat menampung kondensat yang dihasilkan, maka volume bak penampung kondensat harus diperbesar dengan cara merubah tinggi bak penampung kondensat menjadi 9,2 cm dengan saluran vakum berada 2 cm dari permukaan bak penampung kondensat.
4.4         Ketebalan Tabung Ekstraktor dan Kebutuhan Air Total
Menurut hasil perhitungan, tebal minimum tabung ekstraktor terhadap kemungkinan belah adalah sebesar 0,07 mm dengan tabung ekstraktor terbuat dari stainless steel (Lampiran 11), sedangkan tebal tabung ekstraktor yang digunakan adalah sebesar 2 mm. Dengan ketebalan tersebut, maka tabung ekstraktor yang digunakan akan mampu untuk menahan tekanan dalam tabung sebesar -58 cmHg sehingga tabung tersebut tidak akan belah ataupun penyok.
Selama proses evaporasi berlangsung, dibutuhkan sejumlah air yang digunakan untuk mengkondisikan tekanan dalam tabung ekstraktor serta untuk proses kondensasi. Berdasarkan hasil perhitungan, jumlah total air yang dibutuhkan selama proses evaporasi berlangsung adalah sebanyak 74,97 m3 atau setara dengan 74.970 liter air. Karena proses evaporasi dilakukan selama 2,5 jam atau 9.000 s, maka kebutuhan air setiap detiknya adalah sebanyak 8,33 liter (Lampiran 11).
Berdasarkan hasil pengukuran, volume air dalam bak penampung adalah 732 liter. Karena selama proses evaporasi berlangsung air disirkulasikan secara terus menerus, maka volume air dalam bak penampung sangat berlebihan sehingga terjadi pemborosan. Agar pemborosan air dapat diminimalisir, maka dimensi bak penampung dapat diperkecil sehingga volume air dalam bak penampung dapat dikurangi.
4.5         Jumlah Air Yang Diuapkan
Menurut hasil perhitungan, jumlah air yang diuapkan selama proses evaporasi bubur tomat adalah 3,208 kg air. Hasil ini didapatkan jika bubur tomat yang diproses adalah 5,2 kg dengan kadar air pasta tomat yang dihasilkan adalah sebesar 84%. Laju penguapan air selama proses evaporasi berlangsung adalah sebesar 3,95 x 10-4 kg/s (Lampiran 12).
Dari hasil pengukuran, jumlah air yang diuapkan selama proses evaporasi adalah 2,8 kg air dengan laju penguapan air 3,11 x 10-4 kg/s. Perbedaan jumlah air yang diuapkan antara hasil pengukuran dengan hasil perhitungan dikarenakan proses evaporasi tidak berjalan maksimal. Hal ini dikarenakan suhu bubur tomat pada saat proses berlangsung tidak mencapai titik didih, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk proses evaporasi menjadi lebih lama dan laju penguapan air menjadi menurun.
Selain karena suhu bubur tomat, perbedaan tersebut juga dikarenakan uap panas yang dihasilkan selama proses evaporasi berlangsung tidak seluruhnya terhisap keluar. Hal ini dibuktikan dengan adanya titik-titik air yang berada pada tutup tabung ekstraktor.
4.6         Kebutuhan Kalor
Kandungan gizi dalam buah tomat sangat rentan terhadap suhu. Suhu yang terlalu tinggi akan menyebabkan kandungan gizi dalam buah tomat menjadi rusak. Salah satu kandungan gizi yang terpenting adalah vitamin C. Vitamin C akan rusak pada suhu 60 oC. Untuk itu, proses pemanasan dilakukan pada suhu 60 oC sehingga suhu bubur tomat yang diproses tidak akan mencapai 60 oC dan kandungan gizi yang terkandung pun tidak rusak.
Berdasarkan hasil analisis teknik, kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu air dan tabung ekstraktor hingga mencapai suhu 60 oC adalah sebesar 4797,1 kJ. Kalor sebesar ini diperlukan untuk menaikkan suhu air seberat 24 kg yang bersuhu 20 oC serta tabung ekstraktor seberat 8,9 kg yang bersuhu 18 oC menjadi suhu 60 oC. Dengan daya dari pemanas sebesar 1000 W, maka waktu yang diperlukan untuk menaikkan suhu air dan tabung ekstraktor adalah selama 79,95 menit (Lampiran 13).
Berbeda dengan hasil pengukuran, waktu yang diperlukan untuk menaikkan suhu air dan tabung ekstraktor adalah selama 90 menit. Perbedaan ini disebabkan oleh kondisi tegangan listrik yang tidak stabil sehingga menyebabkan besarnya daya yang diterima pemanas menjadi tidak maksimal.
Menurut hasil analisis teknik, kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu bubur tomat hingga mencapai suhu 53,6 oC dan menguapkan air dalam bubur tomat hingga kadar air mencapai 84% adalah sebesar 8.244,85 kJ. Kalor sebesar ini diperlukan untuk menaikkan suhu bubur tomat seberat 5,2 kg yang bersuhu 29 oC menjadi suhu 53,6 oC, juga ditambah dengan kalor laten air pada suhu 53,6 oC. Dengan daya dari pemanas sebesar 1.000 W, maka waktu yang diperlukan untuk menaikkan suhu air dan tabung ekstraktor adalah selama 137,41 menit (Lampiran 13).
Menurut hasil pengukuran, waktu yang diperlukan untuk menaikkan suhu bubur tomat dari suhu 29 oC hingga mencapai suhu 53,6 oC dan menguapkan air dalam bubur tomat hingga kadar air mencapai 84% adalah selama 150 menit. Perbedaan ini disebabkan suhu bubur tomat pada saat proses berlangsung tidak mencapai titik didih yaitu pada suhu 54,1 oC, sehingga waktu yang diperlukan dalam proses evaporasi menjadi lebih lama.
4.7         Kebutuhan Tenaga
Kebutuhan tenaga atau daya dihitung berdasarkan perkalian antara nilai tegangan listrik dan kuat arus listrik yang diperlukan pompa pada saat proses berlangsung. Nilai kuat arus listrik dan tegangan listrik dihitung dengan menggunakan alat clamp ampere meter. Berdasarkan hasil pengukuran, besarnya daya yang dibutuhkan untuk menjalankan pompa water jet adalah sebesar 618,58 W (Lampiran 13).
4.8     Kelayakan Mesin
Tabel 4. Rincian Hasil Analisis Teknik dan Pengukuran
Kriteria
Analisis Teknik
Pengukuran
Kapasitas mesin (liter)
9,89
28,61
Jumlah air yang diuapkan (kg)
3,208
2,8
Perubahan tekanan (cmHg)
-73,32
-58
Daya pompa (HP)
2,64
2,5
Titik didih air dalam bahan (oC)
26,14
54,1
Debit pompa (m3/s)
8,15 x 10-3
3,17 x 10-3
Panjang minimum pipa kondensor (m)
9,96
10
Tinggi minimum ruang penampung kondensat (m)
0,092
0,075
Suhu uap panas (oC)
79,95
-
Suhu kondensat (oC)
20,39
21
Debit kondensor (m3/s)
1,8 x 10-4
2,1 x 10-4
Tebal minimum tabung ekstraktor (mm)
0,07
2
Kebutuhan air total (m3)
74,97
-
Energi panas untuk pemanasan air dan tabung (kJ)
4.797,1
-
Lama pemanasan air dan tabung (menit)
79,95
90
Energi panas untuk proses evaporasi bahan (kJ)
8.244,85
-
Lama proses evaporasi (menit)
137,41
150
Laju penguapan (kg/s)
3,95 x 10-4
3,11 x 10-4           
Kebutuhan tenaga untuk pompa (W)
2.100
618,58
Volume air dalam bak penampung (liter)
-
732
Berdasarkan Tabel 4, dapat dilihat bahwa volume bubur tomat yang dapat diproses tidak sesuai dengan volume yang diharapkan. Kapasitas aktual mesin hanya sepertiga dari kapasitas yang diharapkan.
Besarnya debit keluaran air dari pompa water jet jauh lebih sedikit dibandingkan dengan hasil analisis teknik. Hal tersebut akan mempengaruhi besarnya perubahan tekanan yang dihasilkan sehingga akan mempengaruhi tingginya titik didih air dalam bubur tomat yang diproses.
Tinggi ruang penampung kondensat yang tersedia pada kondensor mesin ekstraktor vakum tidak dapat menampung jumlah kondensat yang dihasilkan dari proses evaporasi. Hal ini akan menyebabkan sebagian kondensat akan meluap dan masuk ke dalam tabung vakum sehingga akan mempengaruhi proses pemvakuman.
Tenaga (daya) yang diterima oleh mesin ekstraktor vakum sangat kecil bila dibandingkan dengan kebutuhan tenaga seharusnya. Hal ini menyebabkan komponen-komponen mesin ekstraktor vakum tidak dapat bekerja secara maksimal.
Dari uraian diatas, maka dapat dilihat bahwa beberapa komponen dari mesin ekstraktor vakum belum memenuhi standard yang dibutuhkan untuk melakukan proses pembuatan pasta tomat. Komponen mesin tersebut di antaranya adalah pompa vakum, kondensor, dan kebutuhan tenaga untuk pompa.
Mesin ekstraktor vakum sudah dapat digunakan dalam proses pembuatan pasta tomat. Akan tetapi, karena beberapa komponen dari mesin ekstraktor vakum tersebut belum memenuhi standard yang dibutuhkan, maka proses evaporasi akan memerlukan waktu yang lama sampai menghasilkan kadar air pasta tomat yang diinginkan.
5.1     Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini di antaranya :
1.       Beberapa komponen mesin ekstraktor vakum belum memenuhi standard yang dibutuhkan untuk memproses bubur tomat menjadi pasta tomat, yaitu pompa vakum, kondensor, dan kebutuhan tenaga untuk pompa.
2.       Mesin ekstraktor vakum sudah dapat dioperasikan untuk memproduksi pasta tomat, akan tetapi memerlukan waktu yang lama hingga mencapai kadar air pasta tomat yang diinginkan.
3.       Karena kecepatan putar pengaduk terlalu kecil, maka volume maksimal bubur tomat yang dapat diproses hanya sebatas tinggi sirip pengaduk yang terdapat pada batang pengaduk.
4.       Mesin ekstraktor vakum tidak dapat berfungsi pada kondisi optimal dikarenakan daya yang diterima mesin tidak mencukupi besarnya daya yang dibutuhkan.
5.2     Saran
1.       Mesin tidak cocok dioperasikan di tempat yang memiliki kondisi tegangan listrik yang tidak stabil.
2.      Kapasitas bak penampung kondensat diperbesar dengan cara menambah tinggi dinding bak penampung kondensat minimal menjadi 9,2 cm sehingga seluruh kondensat dapat tertampung dan tidak ikut masuk ke dalam tabung vakum.
3.       Memperbesar daya pemanas sehingga waktu proses dapat dipersingkat.
4.       Memperbesar daya pengaduk sehingga kecepatan putarnya bertambah cepat dan volume bubur tomat yang dapat ditampung dalam satu kali proses menjadi lebih banyak.
5.       Perlu dilakukan pengkajian terhadap kandungan gizi yang terkandung pada pasta tomat yang dihasilkan.

1 komentar:

  1. gan boleh minta data aslinya? buat referensi TA saya. kebanyakan rumus diatas ga jelas. thx

    BalasHapus