Rabu, 19 Oktober 2011

RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER UNTUK PEWILAYAHAN TANAMAN HORTIKULTURA DI JAWA BARAT

           Pengelolaan informasi komoditas hortikultura di Jawa Barat masih dilakukan secara manual. Data yang terkait mengenai komoditas hortikultura begitu luas sehingga untuk menelusurinya dibutuhkan waktu yang lama. Untuk itu diperlukan sebuah alat bantu berupa sistem informasi berbasis komputer. Tujuan pada penelitian ini adalah merancang bangun sistem informasi berbasis komputer untuk tanaman hortikultura berdasarkan wilayah di Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah rancang bangun yang didasarkan pada informasi yang akan disampaikan melalui database yang dirancang. Sistem didisain bersifat fleksibel terhadap semua perubahan data. Sistem ini menggunakan aplikasi database Microsoft Access 2007 dengan aplikasi pemrograman Visual Basic 6.0. Kelompok data dalam sistem informasi ini terdiri dari : Profil Komoditas, Profil Wilayah, Komoditas Wilayah, Hama, Penyakit dan data ekonomi. Hasil dari penelitian ini berupa aplikasi yang menampilkan profil komoditas hortikultura, profil wilayah, analisis investasi, analisis kesesuaian lahan, persebaran hama & penyakit, grafik dan laporan dengan parameter jumlah produksi, luas tanam dan luas panen komoditas hortikultura di daerah Jawa Barat. Sistem ini diharpkan dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pemenuhan kebutuhan informasi mengenai komoditas hortikultura di Indonesia, khususnya Jawa Barat.


Latar Belakang
            Indonesia merupakan negara dengan luas areal lahan pertanian yang besar, sebagai negara yang mempunyai iklim tropis, Indonesia diuntungkan karena mampu membudidayakan aneka ragam komoditas tetapi Indonesia belum mampu memanfaatkan keuntungan tersebut. Dalam beberapa tahun kebelakang Indonesia masih menggantungkan diri kepada impor luar negeri untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan pangan lainnya.
Potensi komoditas hortikultura pada pasar lokal cukup menjanjikan seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan tanaman hias, mempunyai pangsa pasar tersendiri. Dalam aspek ekonomi, hortikultura memegang peranan penting dalam sumber pendapatan petani, perdagangan, industri maupun penyerapan tenaga kerja. Dalam skala nasional komoditas hortikultura juga mampu memberikan sumbangan Produk Domestik Bruto (PDB) secara signifikan. Pada tahun 2005 atas dasar harga berlaku, sumbangan PDB hortikultura mencapai 21,17% dari PDB sektor pertanian, atau nomor dua setelah tanaman pangan yang mencapai 40,75%. Apabila dilihat atas dasar harga konstan, PDB komoditas hortikultura tersebut senilai sekitar Rp. 44,196 trilyun (tahun 2005). Per-tumbuhan PDB hortikultura sejak tahun 2002 – 2005 mencapai 4,6% per tahun dan pada tahun 2006 – 2009 ditargetkan meningkat rata-rata 5,2% per tahun, atau senilai Rp. 54,093 trilyun pada tahun 2009 (atas dasar harga konstan) (Mulyaman, 2007).
Produk hortikultura, baik yang segar maupun olahan, menjadi salah satu komoditas perdagangan internasional, hal tersebut tentu menjadi peluang ekspor produk hortikultura Indonesia, sekaligus memberikan sumbangan bagi Produk Domestik Bruto (PDB). Potensi ekspor produk hortikultura dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Tabel 1. Nilai Ekspor Komoditas Sayur-sayuran di Indonesia Periode 2003-2006
No
Komoditas
Nilai Ekspor (US $)
2003
2004
2005
2006
1
Kentang
4.392.346
3.739.473
8.516.112
12.547.444
2
Tomat
289.472
2.599.702
1.128.266
792.829
3
Bawang Merah
2.747.061
1.888.929
1.520.423
6.365.994
4
Bawang Putih
373.634
43.166
7.308
11.182
5
Kubis/Kol
10.819.133
7.542.058
8.193.295
8.999.178
6
Kembang Kol
450.458
475.755
927.175
437.736
7
Jamur
19.201.360
2.793.243
24.021.656
22.129.170
8
Ketimun
602.583
339.454
871.682
857.547
9
Terung
2.650.331
1.828.444
2.573.061
588.903
10
Wortel
178.776
106.239
41.490
145.775
11
Bawang Daun
86.002
-
-
-
12
Kacang Merah
1.196.984
39,418
27.025
360
13
Buncis
367.252
59,784
84.956
882.911
14
Bayam
-
11.390
11.105
316.264
15
Cabe
539.053
1.581.358
7.210.822
10.961.781
16
Lainnya
9.398.177
37.932.780
55.447.555
61.180.097
Total Sayuran
53.295.642
60.981.193
110.581.931
126.217.171
Sumber :  Pusdatin dan BPS (2006)
Tabel 2. Nilai Ekspor Komoditas Buah-buahan di Indonesia Periode 2003-2006
No
Komoditas
Nilai Ekspor (US $)
2003
2004
2005
2006
1
Pisang
244,652
1,197,495
3.647.027
4,443,188
2
Nenas
148,053,124
134,953,912
198,618,964
219,653,476
3
Alpukat
169,049
5,416
5,121
4,104
4
Jambu Biji
76,488
106,274
15,277
139,842
5
Mangga
584,500
1,879,664
964,294
1,181,881
6
Manggis
9,304,511
3,045,379
8,472,770
5,697,879
7
Jeruk
1,403,781
2,046,221
1,248,559
1,140,737
8
Pepaya
187,972
524,686
60,485
140,083
9
Rambutan
603,612
134,772
-
-
10
Langsat/Duku
21,044
1,643
-
-
11
Durian
13,707
-
2,911
2,635
12
Semangka
16,679
-
-
4,392
13
Melon
263,832
-
321,445
140,931
14
Lainnya
28,311,484
27,927,156
58,939,819
29,809,346
Total Buah-buahan
189,254,435
171,822,618
272,296,672
262,358,494
Sumber :  Pusdatin dan BPS (2006)
Keadaan tersebut mempunyai banyak persoalan salah satunya mengenai antisipasi kebutuhan pasar hortikultura yang belum bisa diimbangi oleh persediaan yang cukup karena terdapat keterbatasan dalam kualitas, kapasitas dan kontinuitas. Hal-hal tersebut diakibatkan oleh daya saing produk yang lemah karena transportasi dan sistem distribusi yang belum tepat. Distribusi komoditas sebaiknya mengikuti kaidah potensi daerah yang ada.
Komoditas hortikultura merupakan komoditas prospektif, baik di pasar domestik maupun internasional, sehingga program pengembangan hortikultura sebaiknya didasarkan atas pertimbangan potensi wilayah, kondisi agroklimat, fokus binaan, sumbangan terhadap PDB, penyerapan tenaga kerja, pemenuhan kebutuhan nasional dan peningkatan ekspor. Menteri Pertanian menetapkan komoditas hortikultura binaan sebanyak 323 jenis, terdiri dari buah-buahan 60 jenis, sayuran 80 jenis, biofarmaka 66 jenis dan tanaman hias 117 jenis. Dengan banyaknya komoditas binaan tersebut dan mengingat keterbatasan yang ada, prioritas-prioritas pengembangannya perlu dilakukan, diantaranya didasarkan pada beberapa aspek, yaitu untuk kecukupan bahan makanan, memiliki manfaat ekonomi, kesehatan dan budaya.
            Jawa Barat sebagai daerah pendukung bagi daerah pasokan komoditas lokal maupun global, memiliki arti penting dikarenakan mempunyai ketersediaan lahan yang cukup luas, membuka peluang bagi daerah ini untuk menjadi sentra hortikultura, baik tanaman buah-buahan maupun hias. Hal ini juga sesuai dengan rencana strategis (renstra) pembangunan daerah Jawa Barat yang mengutamakan pembangunan daerah yang berdasarkan potensi wilayah.
Beberapa daerah di Jawa Barat yang berpotensi dengan komoditas hortikulturanya bisa dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Sebaran Lokasi Pengembangan Komoditas di Jawa Barat
No
Komoditi
Lokasi Sentra (Kab/Kota)
1
Pisang
Cianjur
2
Jeruk
Garut, Sumedang
3
Manggis
Sukabumi, Subang, Purwakarta, Tasikmalaya, Bogor
4
Nanas
Subang
5
Rambutan
Kota Banjar
6
Bawang Merah
Kuningan, Cirebon
7
Kubis
Bandung
8
Jamur
Bandung, Karawang
9
Paprika
Bandung
10
Tomat
Kota Banjar
Sumber : Dirjen Hotikultura (2008)
Renstra sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No 050/1240/II/Bangda/2001 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Pembangunan Propinsi, Kabupaten dan Kota adalah dokumen perencanaan taktis strategis yang menjabarkan potret permasalahan pembangunan daerah serta indikasi program yang akan dilaksanakan secara terencana dan bertahap melalui sumber pembiayaan APBD dengan mengutamakan kewenangan wajib disusul dengan bidang lainnya sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah.
Pengelolaan informasi data komoditas hortikultura pada wilayah Jawa Barat masih dikelola secara manual. Data yang terkait mengenai komoditas hortikultura begitu luas sehingga untuk mencari komoditas hortikultura yang diperlukan membutuhkan waktu yang lama. Untuk itu diperlukan sebuah alat bantu berupa Sistem Informasi berbasis komputer. Sistem informasi dalam hal ini merupakan penataan data komoditas hortikultura yang berdasarkan kaidah potensi daerah secara menyeluruh yang terkomputerisasi dan nantinya menjadi sebuah informasi yang diperlukan

1. 2.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan pada bagian sebelumya maka permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah besarnya volume dan keragaman data yang diperlukan untuk mendukung pengembangan komoditas hortikultura sehingga untuk pemenuhan kebutuhan informasi dibutuhkan waktu yang lama.

1. 3.     Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah :
1.      Merancang bangun sistem informasi berbasis komputer pewilayahan tanaman hortikultura di Jawa Barat.
2.      Menyediakan database yang dapat digunakan untuk mengumpulkan, mengelompokkan dan menghubungkan data sehingga bisa menjadi informasi yang berguna.
Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Mempermudah pencarian informasi komoditas hortikultura di Jawa Barat.
2.      Meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam penyebaran informasi hortikultura di Jawa Barat.

1. 4.     Kegunaan Penelitian
            Hasil dari penelitian ini berguna untuk :
  1. Memberikan informasi komoditas hortikultura berdasarkan daerah (kota dan kabupaten) bagi pelaku industri pertanian, dan juga kalangan akademis.
    2.   Mempercepat perkembangan dan kemajuan pertanian di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi  informasi.


Hortikultura
Hortikultura berasal dari kata “hortus” (garden atau kebun) dan “colere” (to cultivate atau budidaya). Secara harfiah istilah Hortikultura diartikan sebagai usaha membudidayakan tanaman buah-buahan, sayuran dan tanaman hias (Janick, 1972). Sehingga Hortikultura merupakan suatu cabang dari ilmu pertanian yang mempelajari budidaya buah-buahan, sayuran dan tanaman hias. Sedangkan dalam GBHN 1993-1998 selain buah-buahan, sayuran dan tanaman hias, yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah tanaman obat-obatan.
Ditinjau dari fungsinya tanaman hortikultura dapat memenuhi kebutuhan jasmani sebagai sumber vitamin, mineral dan protein (dari buah dan sayur), serta memenuhi kebutuhan rohani karena dapat memberikan rasa tenteram, ketenangan hidup dan estetika (dari tanaman hias/bunga). Hortikultura mempunyai peran sebagai berikut :
·         Memperbaiki gizi masyarakat,
·         Memperbesar devisa negara,
·         Memperluas kesempatan kerja,
·         Meningkatkan pendapatan petani, dan 
·         Pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan.
Komoditas hortikultura mempunyai sifat yang perlu diperhatikan yaitu :
ü  Tidak dapat disimpan lama
ü  Perlu tempat lapang (voluminous),
ü  Mudah rusak (perishable) dalam pengangkutan
ü  Melimpah/meruah pada suatu musim dan langka pada musim yang lain
ü  Fluktuasi harganya tajam (Notodimedjo, 1997).
Hortikultura adalah komoditas yang akan memiliki masa depan sangat cerah menilik dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian Indonesia waktu mendatang. Seperti halnya negara-negara lain yang mengandalkan devisanya dari hasil hortikultura, antara lain Thailand dengan berbagai komoditas hortikultura yang serba  Bangkok, Belanda dengan bunga tulipnya, Nikaragua dengan pisangnya, bahkan Israel dari gurun pasirnya kini telah mengekspor apel, jeruk, anggur dan sebagainya.
Komoditas hortikultura memiliki potensi untuk menjadi salah satu pertumbuhan baru di sektor pertanian. Oleh karena itu di masa mendatang perlu ditingkatkan lagi penanganannya terutama dalam menyongsong pasar bebas abad 21. Beberapa contoh komoditas unggulan hortikultura di Jawa Barat bisa dilihat pada tabel 4
Tabel 4. Beberapa Komoditas Unggulan di Jawa Barat
No
Komoditas
Kabupaten
1
Mangga
Indramayu, Majalengka, Cirebon
2
Manggis
Tasikmalaya, Bogor, Purwakarta, Subang
3
Jeruk
Garut, Tasikmalaya, Sumedang
4
Rambutan
Subang, Bogor, Tasikmalaya, Ciamis
5.
Pisang
Cianjur, Ciamis, Tasikmalaya
6
Durian
Bogor, Cianjur, Kuningan
7
Nenas
Subang
8
Bawang Merah
Majalengka Cirebon, Kuningan, Bandung, Garut
9
Cabe Merah
Bandung, Cianjur, Majalengka, Tasikmlaya
10
Kentang
Bandung, Garut
11
Kubis
Bandung, Garut
12
Tomat
Bandung, Garut, Cianjur

2.2.      Sistem
            Secara umum sistem adalah seperangkat elemen yang membentuk kegiatan atau suatu prosedur/bagan pengolahan yang mencari suatu tujuan atau tujuan-tujuan bersama dengan mengoperasikan data dan/atau barang pada waktu rujukan tertentu untuk menghasilkan informasi dan/atau energi dan/atau barang berupa kumpulan dari subsistem-subsistem yang saling berinteraksi. Unsur-unsur yang mewakili suatu sistem secara umum adalah masukan (input), pengolahan (processing), dan keluaran (output) (Murdick et al., 1993).
Sistem merupakan suatu bentuk integrasi antara satu komponen dengan komponen lain, karena sistem memiliki sasaran yang berbeda untuk setiap kasus yang terjadi dalam sistem tersebut (Sutabri, 2003). Sistem dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang, diantaranya:
a.       Sistem abstrak dan sistem fisik
b.      Sistem alamiah dan sistem buatan manusia
c.       Sistem deterministik dan sistem probabilistik
d.      Sistem terbuka dan sistem tertutup
            Siklus hidup sistem (cycle life system) adalah proses evolusioner yang diikuti dalam menerapkan sistem atau subsistem informasi berbasis komputer. Siklus hidup sistem terdiri dari rangkaian tugas yang erat mengikuti langkah-langkah pendekatan sistem karena tugas-tugas tersebut mengikuti pola yang teratur dan dilakukan secara top down (Sutabri, 2003).

Desain Sistem
Desain dapat diartikan sebagai tahap setelah analisis dan siklus pengembangan sistem, pendefinisian dari kebutuhan-kebutuhan fungsional, persiapan untuk rancangan bangunan implementasi, menggambarkan bagaimana suatu sistem dibentuk yang dapat berupa penggambaran, perencanaan, pembuatan sketsa atau pengaturan dari beberapa elemen yang terpisah ke dalam satu kesatuan yang utuh dan berfungsi), termasuk mengkonfigurasikan komponen-komponen perangkat lunak dan perangkat keras dari suatu sistem (Jogiyanto, 2001).
Tujuan desain sistem adalah memenuhi kebutuhan pemakai sistem serta memberikan gambaran yang jelas dan rancang bangun yang lengkap kepada pemrogram komputer dan ahli-ahli teknik yang terkait. Perancangan sistem informasi harus memperhatikan sejumlah tekanan desain yang mempengaruhi kerjanya, yaitu :
  1. Integrasi (integration)
  2. Jalur pemakai/sistem (user/system interface)
  3. Tekanan-tekanan persaingan (competitive forces)
  4. Kualitas dan kegunaan informasi (information quality & usebility)
  5. Kebutuhan-kebutuhan sistem (system requirement)
  6. Kebutuhan-kebutuhan pengolahan data (data processing requirement)
  7. Faktor-faktor organisasi (organizational factor)
  8. Kebutuhan biaya-biaya efektifitas (cost effectiveness requirement)
  9. Faktor-faktor manusia (human factor)
  10. Kebutuhan-kebutuhan kelayakan (feasibility requirement)

2.3.      Data dan Informasi
            Menurut Wahyudi (2007) data dalam bahasa Latin berasal dari kata “datum” yang berarti fakta. Kata tersebut bersifat plural, sebagaimana kata air, udara, dan semacamnya. Karenanya kata data akan salah bila ditulis dengan data-data, banyak data, dan semacamnya. Pada komputer, secara kasar dapat dikatakan bahwa data dapat berupa angka-angka, huruf-huruf, gambar-gambar atau simbol-simbol apapun yang dapat dimasukkan (input) ke komputer dan dikeluarkan (output) dari komputer. Informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya (receiver).
Informasi harus dibedakan dengan data, data merupakan fakta dan angka yang tidak sedang digunakan pada proses keputusan dan biasanya berbentuk catatan historis yang dicatat dan diarsipkan tanpa maksud untuk segera diambil kembali untuk pengambilan keputusan (Murdick et.al., 1993). Sedangkan informasi merupakan data yang telah diambil, diolah serta diproses dengan maksud untuk dijadikan suatu kesimpulan dan argumentasi dalam perencanaan pengambilan keputusan.
            Fungsi utama informasi adalah menambah pengetahuan atau mengurangi ketidakpastian pemakai informasi. Informasi yang disampaikan kepada pemakai mungkin merupakan hasil data yang dimasukan ke dalam dan pengolahan suatu model keputusan. Akan tetapi, dalam kebanyakan pengambilan keputusan yang kompleks, informasi hanya dapat menambah kemungkinan kepastian atau mengurangi banyaknya pilihan. Informasi yang disediakan bagi pengambil keputusan memberikan suatu kemungkinan faktor resiko pada tingkat-tingkat pendapatan yang berbeda (Sutabri, 2003).
            Informasi ditentukan oleh dua hal, yaitu manfaat dan biaya untuk mendapatkannya. Suatu informasi dikatakan benilai bila manfaat lebih efektif dibandingkan dengan biaya mendapatkannya (Sutabri, 2003). Sebagian besar informasi tidak dapat secara tepat ditafsir keuntungannya dengan suatu nilai uang, tetapi dapat ditafsir dalam nilai efektivitasnya. Pengukuran nilai informasi biasanya dihubungkan dengan analisis cost effectiveness (nilai efektivitas) dan cost benefit (nilai keuntungan). Nilai informasi ini didasarkan atas sepuluh sifat, yaitu : 1) mudah diperoleh, 2) luas dan lengkap, 3) ketelitian, 4) kecocokan, 5) ketepatan waktu, 6) kejelasan, 7) keluwesan, 8) dapat dibuktikan, 9) tidak ada prasangka, dan 10) dapat diukur.

2.4.      Sistem Informasi
Sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan lapisan-lapisan yang diperlukan. (Jogiyanto, 2001).
Sistem informasi terdiri dari komponen-komponen yang disebut dengan istilah blok bangunan (building block) yang terdiri dari blok-blok sebagai berikut :
  • Blok masukan, Input mewakili data yang masuk ke dalam sistem informasi. Input termasuk metode-metode dan media untuk menangkap data yang akan dimasukkan berupa dokumen dasar.
  • Blok model, Blok ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika dan model matematik yang akan memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data dengan cara yang  sudah tertentu untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan.
  • Blok keluaran, Produk dari sistem informasi adalah keluaran yang merupakan informasi yang berkualitas dan dokumen yang berguna bagi semua tingkatan manajemen serta semua pemakai sistem.
  • Blok teknologi, Teknologi merupakan kotak alat (tool-box) dalam sistem informai yang digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, mengirimkan keluaran dan membantu pengendali dari sistem keluaran. Teknologi terdiri dari tiga bagian utama yaitu teknisi (humanware dan brainware) perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware).
  • Blok basis data (database) merupakan kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya, tersimpan di perangkat keras komputer dan perangkat lunak untuk memanipulasi data. Basis data diakses atau dimanipulasi dengan menggunakan perangkat lunak paket yang disebut DBMS (Database Management System).
  • Blok kendali, Banyak yang bisa merusak sistem informasi, seperti bencana alam, api, temperatur, air, debu, kecurangan-kecurangan, kegagalan sistem itu sendiri, kesalahan-kesalahan, ketidakefisienan dan sabotase. Beberapa pengendalian perlu dirancang untuk memastikan hal-hal yang merusak sistem dapat dicegah ataupun bila terlanjur terjadi kesalahan-keslahan dapat langsung cepat diatasi.

2.4.1.   Sistem Informasi Berbasis Komputer
            Dalam memecahkan suatu masalah ataupun dalam pengambilan keputusan, saat ini memerlukan data yang banyak dan informasi yang tepat, dan manajer atau pengolah data dan informasi mempunyai pekerjaan yang cukup berat untuk mengolah banyak data menjadi informasi yang tepat, oleh karena itu keberadaan, kecepatan serta kecangggihan komputer sangat dibutuhkan oleh manajer untuk mengolah data dan mendapatkan informasi.
Berikut ini menunjukan subsistem dari CBIS (computer based information system)

  1. Transaction Processing system (TPS), TPS adalah sistem informasi yang terkomputerisasi yang dikembangkan untuk memproses data dalam jumlah besar. TPS berfungsi pada level organisasi yang memungkinkan organisasi bisa berinteraksi dengan lingkungan eksternal.
  2. Sistem Informasi Manajemen (SIM), SIM menghasilkan informasi yang digunakan untuk membuat keputusan dan juga dapat membantu menyatukan beberapa fungsi informasi bisnis yang sudah terkomputerisasi (basis data)
  3. Sistem Pendukung Keputusan (SPK), SPK hampir sama dengan SIM karena menggunakan basis data sebagai sumber data. DSS bermula dari SIM karena menekankan pada fungsi mendukung pembuat keputusan diseluruh tahap-tahapnya, meskipun keputusan aktual tetap wewenang eksklusif pembuat keputusan.
  4. Kantor Maya (Virtual Office)
  5. Sistem Pakar (Sistem berbasis pengetahuan), sistem pakar secara efektif menggunakan pengetahuan seorang ahli untuk menyelesaikan masalah yand dialami suatu organisasi.
Sistem Informasi Bebasis Komputer
TPS (Transcation Proces System)
Sistem Informasi Manajeman
Sistem Pendukung Keputusan
Kantor Maya
Sistem Pakar
Keputusan
Masalah
Pemecahan Masalah
          Informasi
 


                           



Gambar 2.  Subsistem dari CBIS dalam memecahkan masalah
            Komputer dirumuskan dalam sistem informasi manajemen sebagai suatu perlengkapan elektronik yang mengolah data, mampu menerima masukan dan keluaran, memiliki kecepatan yang tinggi, ketelitian yang tinggi, dan mampu menyimpan instruksi-instruksi untuk memecahkan masalah (Sutabri, 2003). Komputer dapat melaksanakan kegiatan pengolahan informasi yang biasa dikerjakan oleh manusia dengan lebih cepat dan tingkat kesalahan yang lebih kecil. Dengan komputer ratusan data dapat dibaca dalam waktu yang singkat lalu disimpan untuk kemudian dapat dipanggil/diperoleh lagi dengan mudah dan waktu yang singkat.

2.4.2.      Analisis dan Perancangan Sistem Informasi
Analisis dan perancangan sistem berupaya menganalisis input data, menyimpan data, dan menghasilkan output informasi dalam konteks bisnis khusus. Analisis dan perancangan sistem digunakan untuk menganalisis, merancang, dan mengimplementasikan peningkatan-peningkatan fungsi bisnis yang bisa dicapai melalui penggunaan sistem informasi terkomputerisasi (Kendall dan Kendall, 2006).
            Membuat suatu sistem tanpa merencanakannya dengan tepat bisa menghasilkan kekecewaan yang sangat besar dan menyebabkan sistem menjadi kacau (Kendall dan Kendall, 2006). Analisis dan perancangan sistem ditujukan untuk menyusun sistem informasi, usaha yang banyak yang akan menimbulkan sesuatu diatasi dengan banyak cara. Hal ini bisa dianggap sebagai serangkaian proses yang secara sistematis dilakukan untuk meningkatkan bisnis melalui penggunaan sistem informasi terkomputerisasi. Bagian terbesar dari analisis dan perancangan sistem melibatkan dengan pengguna sistem informasi
Menurut Jogiyanto (2001) analisis sistem adalah penguraian dari suatu sistem informasi yang utuh kedalam bagian-bagian komponennya dengan maksud untuk mengidentifikasikan dan mengevaluasi permasalahan, kesempatan, hambatan yang terjadi dan kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikan.

2.5.      Database
Basis data (database) adalah kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya, tersimpan di simpanan luar komputer dan digunakan perangkat lunak tertentu untuk memanipulasinya. Database berfungsi sebagai basis penyedia informasi bagi para pemakainya. Penerapan database dalam system informasi biasa disebut dengan Database System. Sistem basis data adalah suatu sistem informasi yang mengintegrasikan kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan lainnya dan membuatnya tersedia untuk bermacam-macam aplikasi di dalam suatu organisasi (Jogiyanto, 2001).
Istilah-istilah dalam database antara lain :
a.             Entity adalah orang, tempat kejadian atau konsep yang informasinya direkam.
b.            Atribut merupakan sebutan untuk mewakili suatu entity. Seorang siswa dapat dilihat dari atributnya, misalnya nama, nomor siswa, alamat, nama orang tua, dll. Atribut juga disebut sebagai data elemen, data field, data item.
c.             Field adalah kategori informasi yang disimpan dalam database.
d.            File adalah kumpulan dari beberapa record yang sejenis.
e.             Record adalah kumpulan dari suatu informasi orang atau suatu objek tertentu.
f.             Primary Key adalah satu atribut atau satu set minimal atribut yang tidak hanya mengidentifikasi secara unik suatu kejadian spesifik tapi juga dapat mewakili setiap kejadian dari suatu entity. No. Induk merupakan primary key karena unik tidak mungkin ganda dan mewakili secara menyeluruh terhadap entity pegawai (Kristanto 1994).
            Contoh dari database adalah pada sistem perbankan, dimana database dari rekening-rekening nasbah tersebar pada beberapa bank cabangnya. Ini berarti bahwa lokasi fisik dari catatan rekening nasabah tersebar di beberapa lokasi, namun ini disebut sebuah database tunggal karena dikendalikan secara terpusat, terintegrasi, dan tersusun secara logis.

2.5.1.   Database Management System (DBMS)
            Menurut Wahyudi (2007) DBMS adalah perangkat lunak yang didesain untuk mengelola database. DBMS sering digunakan oleh seorang Database Administrator (DBA) untuk membuat sistem database. Secara lebih rinci DBMS merupakan kumpulan software program yang sangat kompleks untuk mengontrol organisasi data dan alat penyimpanan data di dalam database. DBMS meliputi ;
a)      Sebuah modeling language untuk mendefinisikan skema (relational model) dari setiap database yang berada di DBMS, sesuai dengan DBMS data model-nya. Tiga macam model data dalam DBMS adalah hierarchical, network  dan relational models. DBMS bisa menyediakan satu, dua atau ketiga model data tersebut. Pemilihan struktur yang paling cocok bergantung pada aplikasi, kecepatan transaksi, dan banyaknya model yang dapat dibuat. Model paling dominan yang digunakan saat ini adalah yang ditanam (embedded) di SQL. Banyak DBMS menyediakan Open Database Connectivity (ODC) yang menyediakan cara standar bagi pemrograman untuk mengkases DBMS.
b)      Struktur data (field, record dan file) dioptimalkan dan disesuaikan dengan kebutuhan penyimpanan data di sebuah media penyimpanan yang permanen (yang berpengaruh pada sangat lambatnya akses jika dibandingkan dengan memori utamanya). Sebuah database query language dan report writer untuk mempersilakan pemakai berinteraksi dengan database, menganalisis data, dan meng-update data sesuai tanggung jawab pengguna terhadap data tersebut, termasuk di dalamnya mengontrol keamanan database.
c)      Mekanisme transaksi, yang idealnya tetap menjaga integritas data walupun akses dilakukan oleh banyak pemakai secara bersama-sama, serta toleransi kesalahan yang diperkenankan, termasuk di dalamnya memelihara integritas (keterhubungan) data di dalam database.
Dengan perkataan lain DBMS adalah sekumpulan program yang membantu kita dalam menyimpan dan memodifikasi data serta menggali informasi dari database. Ada beberapa tipe yang berbeda dari DBMS, mulai dari sistem yang kecil yang dijalankan di komputer PC sampai sistem yang dijalankan di komputer mainframe.

2.5.2.      Relational Database Management System (RDBMS)
            Menurut Wahyudi (2007) Relational database management system (RDBMS) adalah sebuah DBMS yang berbasiskan pada model relasi seperti yang awalnya dikemukakan oleh Edgar F. Codd. Relational database adalah database yang sesuai dengan model relasional dan juga didefinisikan sebagai sekumpulan  relasi (set of relations) database yang terpasang (built in) di RDBMS. Sebuah RDBMS digunakan untuk membuat database relasional.
            Sebuah relasi didefinisikan sebagai sekumpulan tupel yang semuanya meiliki atribut yang sama. Hal ini biasanya dipresentasikan dengan sebuah tabel yang datanya diorganisasikan di dalam baris dan kolom. Di database relasional, semua data disimpan di kolom yang memiliki kesamaan domain (seperti tipe data).

2.5.3.      Data Flow Diagram (DFD)
Data Flow Diagram (DFD) sering digunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang telah ada atau sistem baru yang akan dikembangkan secara logika tanpa mempertimbangkan lingkungan fisik dimana data tersebut disimpan. DFD merupakan alat yang digunakan pada metodologi pengembangan sistem yang terstruktur (structured analysis and design)) (Jogiyanto, 2001).
Beberapa simbol yang digunakan DFD mewakili :
a)      External entity (kesatuan luar) atau boundary (batas sistem)
b)      Data flow (arus data)
c)      Process (proses)
d)     Data store (simpanan data)

a)      Kesatuan Luar
Setiap sistem mempunyai batas sistem (boundary) yang memisahkan suatu sistem dengan lingkungan luarnya. Sistem akan menerima input dan menghasilkan output kepada lingkungan luarnya. Kesatuan luar (external entity) merupakan kesatuan (entity) di lingkungan luar sistem yang dapat berupa organisasi, organisasi atau sistem lainnya yang berada di lingkungan luarnya yang akan memberikan input atau menerima output dari sistem. Kesatuan luar ini kebanyakan terdiri dari suatu kantor di luar sistem yang sedang dikembangkan, orang atau sekelompok orang atau suatu organisasi di luar sistem, sistem informasi yang lain di luar sistem yang sedang dikembangkan dan penerima akhir dari suatu laporan yang dihasilkan oleh sistem.

b)      Arus Data
Arus data (data flow) di DFD diberi simbol panah (gambar 4). Arus data ini mengalir diantara proses (process), simpanan data (data store) dan kesatuan luar (external entity). Arus data ini menunjukkan arus data dari data yang dapat berupa masukan untuk sistem atau hasil dari proses sistem.
c)      Proses
Suatu proses adalah kegiatan atau kerja yang dilakukan oleh organisasi mesin atau komputer dari hasil suatu arus data yang masuk ke dalam proses untuk dihasilkan arus data yang akan keluar dari proses. Pada Physical Data Flow
Diagram (PDFD), proses dapat dilakukan oleh orang, mesin atau komputer, sedang untuk Logical Data Flow Diagram (LDFD) suatu proses hanya menunjukkan proses dari komputer. Suatu proses terjadi karena adanya arus data yang masuk dan hasil dari proses adalah juga merupakan arus data lain yang mengalir. Suatu proses dapat ditunjukkan dengan simbol lingkaran atau dengan simbol empat persegi panjang tegak dengan sudut-sudutnya tumpul seperti yang.
a)      Simpanan Data
Simpanan data (data store) merupakan simpanan dari data yang dapat berupa sebagai berikut :
·         Suatu file atau database di sistem komputer
·         Suatu arsip atau catatan manual
·         Suatu kotak tempat data di meja seseorang
·         Suatu tabel acuan manual
·         Suatu agenda atau buku
Simpanan data di Data Flow Diagram (DFD) dapat disimbolkan dengan sepasang garis horisontal paralel yang tertutup di salah satu ujungnya.
Nama Data Store

2.4.2.      Entity Relationship Diagram (ERD)
Menurut Wahyudi (2007) Database digunakan untuk menyimpan data yang terstruktur. Struktur untuk data ini dapat didesain menggunakan beberapa variasi teknis, satu diantaranya disebut dengan entity-relationship modeling atau ERM. ERM adalah sebuah model konseptual dari data yang menggambarkan keadaan sebenarnya dari entities dan relationship. Hasil akhir dari proses ERM adalah entity relationship diagram (ERD). Model data membutuhkan notasi grafis untuk mempresentasikannya. ERD adalah tipe dari model data konseptual.
Sesuai namanya ada dua komponen utama pembentuk model Entity-Relationship yaitu entitas (entity) dan relasi (relation). Kedua komponen ini dideskripsikan lebih jauh melalui sejumlah atribut atau properti. Setiap entitas dituliskan dalam bentuk kotak segi empat dan hubungan antara dua entitas dengan simbol 1 to N menunjukkan satu ke banyak (one to many), dan N to N menunjukkan banyak ke banyak (many to many). Beberapa  simbol yang digunakan dalam pembuatan diagram hubungan entitas dapat dilihat pada Gambar 9. Hubungan 1 ke N dicontohkan pada sistem pengajaran di sekolah dasar dimana satu guru mengajar banyak siswa dan siswa diajar oleh 1 guru pula, N to N pada sistem pengajaran universitas dimana satu guru mengajar banyak siswa dan siswa di ajar oleh banyak guru (Kristanto, 2002).
Notasi-notasi dalam ERD adalah sebagao berikut :
Penghubung
Entitas
Relasi
Atribut
                                                                                                        

Gambar 7Notasi dalam ERD

1.      Entitas (Entity), dilambangkan denganpersegi panjang (rectangles)
2.      Relasi (relationship), dilambangkan dengan belah ketupat (diamonds)
3.      Atribut (attribute), dilambangkan dengan elips
4.      Garis penghubung (line links), dilambangkan dengan garis (lines)

2.4.3.      Perbedaan DFD dengan Bagan Alir
Terdapat perbedaan antara Data Flow Diagram (DFD) dengan bagan alir yaitu :
a.       Proses di DFD (Gambar 8) dapat beroperasi secara paralel, sehingga beberapa proses dapat dilakukan serentak. Hal ini merupakan kelebihan dari DFD dibandingkan dengan bagan alir (Gambar 9) yang cenderung hanya menunjukkan proses yang urut.
b.      DFD lebih menunjukkan arus data di suatu sistem, sedang bagan alir sistem lebih menunjukkan arus dari prosedur dan bagan alir program lebih menunjukkan arus dari algoritma.
c.       DFD tidak menunjukkan proses perulangan (loop) dan proses keputusan (decision) sedang bagan alir menunjukkannya.





Gambar 8. Contoh DFD









Gambar 9. Contoh Bagan Alir

2.4.4.      Perancangan Database
Menurut Atre (1980) langkah-langkah dalam merancang database adalah sebagai berikut :
1.      Merencanakan model konseptual dari suatu database
a.     Pelajari lingkungan dan perkiraan dari data.
b.    Tentukan elemen data dalam laporan secara individu.
c.     Menentukan hubungan antara elemen data, seperti mengetahui primary key dan non-key data elemen.
d.    Mengembangkan hubungan-hubungan bentuk normal ketiga untuk masing-masing elemen data.
e.     Manggambar model konseptual berdasarkan bentuk normal ketiga.
2.      Merencanakan model logic dari suatu database
a.     Menggambar model logic berdasarkan model konseptual di atas untuk sistem manajemen database, menggunakan ;
·         Model data relational
·         Model data hirarki
·         Model data jaringan
b.    Menggambar model external untuk laporan berdasarkan model logic di atas.
3.      Merencanakan model fisik dari suatu database
a.    Menggambarkan model fisik berdasarkan model logis di atas.
4.      Mengevaluasi model fisik dari database yang direncanakan
a.    Mengembangkan perkiraan jarak yang dibutuhkan untuk model internal di atas.                     Mengembangkan kemungkinan input dan output untuk model di atas.
b.    Menggambar model external untuk laporan berdasarkan model internal di atas.
c.    Mengembangkan perkiraan waktu untuk model external secara bertahap.

2.5.            Analisis Kelayakan Ekonomi Suatu Investasi
Menurut Kastaman (2004) ada banyak metode yang dapat digunakan untuk menilai kelayakan ekonomi suatu investasi usaha. Beberapa metode yang sering digunakan anatara lain :
a)      Metode ekivalensi nilai sekarang (present worth analysis) atau lebih dikenal dengan istilah umum NPV atau Net Present Value. Metode ini didasarkan atas nilai sekarang bersih dari hasil perhitungan nilai sekarang pendapatan dengan nilai sekarang pengeluaran selama jangka waktu analisis dan suku bunga tertentu. Kriteria kelayakannya apabila nilai sekarang bersih atau NPV > 0, yang dirumuskan dengan :
NPV = (∑ PV Pendapatan) – (∑ PV Penerimaan)
b)      Metode rasio manfaat dan biaya (benefit cost ratio analysis) atau yang lebih dikenal dengan istilah BC Rasio. Metode BC rasio pada dasarnya menggunakan data ekivalensi nilai sekarang dari penerimaan dan pengeluaran, dalam hal ini BC Rasio merupakan perbandingan antara nilai sekarang dari pendapatan yang diperoleh dari kegiatan investasi dengan nilai sekarang dari pengeluaran selama investasi tersebut berlangsung dalam kurun waktu tertentu. 

 3. 1. Tempat dan Waktu Penelitian
            Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2008, menggunakan data di Dinas Tanaman Pangan dan BPS Jawa Barat. Selanjutnya dilakukan kegiatan pemahaman tentang keadaan dan potensi hortikultura serta pengkajian sistem informasi dari pengolahan data.

3. 2. Bahan dan Alat
            Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
Peralatan untuk pengolahan data yang terdiri dari :
-          Komputer dengan Operating System berupa Windows XP Professional.
-          Aplikasi database Microsoft Access 2003
-          Aplikasi pemrograman Visual Basic 6.0.
-          Aplikasi pembuat laporan Crystal Report 8.0
Bahan penelitian ini adalah data-data potensi pengembangan holtikultura di Jawa Barat, antara lain:
-          Data lokasi sentra komoditas holtikultura di daerah Jawa Barat
-          Data profil wilayah
-          Data profil komoditas
-          Data kondisi agroklimat wilayah
-          Data produksi, luas tanam, luas panen

 3. 3. Metode Penelitian
            Metode penelitian yang digunakan ialah rancang bangun, dengan desain database dan pembuatan aplikasi Sistem Informasi (SI). Sistem didasarkan pada tampilan dari informasi yang akan disampaikan melalui database yang akan dirancang.

3. 4. Pelaksanaan Penelitian
            Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu perencanaan sistem, analisis sistem, desain sistem, implementasi sistem.

3. 4. 1. Perencanaan Sistem Database
Perencanaan sistem informasi pewilayahan ini dibuat untuk menyediakan informasi tentang potensi serta nilai positif dari komoditas kepada pihak luar dan memberikan informasi lebih lanjut kepada Umum. Merancang Database merupakan suatu hal yang sangat penting. Kesulitan utama dalam merancang database adalah bagaimana merancang sehingga database dapat memuaskan keperluan saat ini dan masa mendatang. Dalam perancangan suatu data base ada beberapa langkah yang biasa ditempuh, yaitu seperti berikut :
1.      Analisis Kebutuhan Informasi.
a.       Informasi mengenai komoditas wilayah hortikultura dan profilnya.
b.      Informasi komoditas unggulan suatu daerah, informasi ini dibutuhkan bagi pengusaha atau investor untuk menanamkan sahamnya.
2.      Perancangan Model Konseptual Database
a.       Analisa Data, yaitu mengumpulkan data awal. (entity,hubungan antar entity, dsb)
b.      Aplikasi yang ada, yaitu mengumpulkan informasi tentang data yang ada dalam aplikasi saat ini untuk menentukan entity dan hubungan di antaranya.
c.       Aplikasi potensial, yaitu mengumpulkan informasi tentang potensi penggunaan data.
3.      Perancangan model logis database
4.      Perancangan model fisik database
5.      Evaluasi model fisik database
6.      Implementasi database

3. 4. 2. Desain Sistem Database.
            Pendekatan desain sistem yang digunakan adalah dengan menggunakan metode pendekatan terstruktur yang menggunakan alat bantu berupa tahapan sebagai berikut:
-          Pembuatan diagram ­input output
Diagram input output digunakan untuk mengetahui secara garis besar dari segala sesuatu yang akan menjadi masukan, proses apa yang dilakukan, serta keluaran yang akan ditampilkan pada sistem informasi.
-          Pembuatan data flow diagram (DFD)
Diagram arus data digunakan untuk menggambarkan arus data yang terjadi dalam sistem secara keseluruhan dari sumber data sampai menjadi informasi yang diterima oleh pengguna sistem informasi.
3. 4. 3. Perancangan Model Konseptual Database.
Proses perancangan model konseptual dari database ini melibatkan sejumlah entity dan data elemen dan dikembangkan atas dasar analisa data yang dikumpulkan.
Penentuan entity dan data elemen dilakukan sebelum perancangan database dilakukan, deskripsi entity dan data elemen dari dokumen yang ada saat ini adalah sebagai berikut :
a.       Entity Wilayah
·         Kode Wilayah
·         Tahun
·         Nama Wilayah
·         Luas Wilayah
·         Suhu
·         Kelembaban
·         Curah Hujanp
·         Ketinggian
b.      Entity Komoditas
·         Kode Komoditas
·         Nama Komoditas
·         Jenis Komoditas
·         Klasifikasi Botani
·         Profil Komoditas
·         Panen
·         Pasca Panen
c.       Entity Komoditas Wilayah
·         Kode Wilayah
·         Kode Komoditas
·         Jumlah Produksi
·         Luas Panen
·         Luas Tanam
d.      Entity Hama
·         Kode Hama
·         Nama Hama
·         Pengendalian
e.       Entity Penyakit
·         Kode Penyakit
·         Nama Penyakit
·         Penyebab Penyakit
·         Gejala Penyakit
·         Pengendalian Penyakit
Untuk mendapat relasi antara entity maka dibutuhkan field yang unik diantara entity-entity tersebut atau biasa disebut primary key, entity tersebut mempunyai primary key yaitu :
a)      Wilayah           : Kode Wilayah
b)      Komoditas      : Kode Komoditas
c)      Hama               : Kode Hama
d)     Penyakit          : Kode Penyakit























Gambar 10.  Diagram Alir Penelitian
5.1.            Struktur Menu
Program ini mempuyai menu dan submenu yang dapat dilihat untuk pengoperasiannya. Struktur menu merupakan bagan menu yang ada pada suatu aplikasi tertentu. Struktur menu dapat tertera pada Gambar 17.






Gambar 17. Struktur Menu
Menu utama merupakan tampilan awal pada program Sistem Informasi Hortikultura berbasis Wilayah di Daerah Jawa Barat. Pada menu utama, terdapat menu-menu (submenu) untuk membantu pengoperasian program ini. Visualisasinya ditunjukkan pada Gambar 18 dan 19.
Halaman Awal menyajikan tiga menu inti berupa Input Data Master, Pengolahan dan Laporan. Masing-masing menu di atas memiliki submenu, yaitu :
1.      Input Data Master : Data Komoditas, Data Hama, Data Penyakit.
2.      Pengolahan Data : Profil Wilayah, Grafik per wilayah, Grafik per Komoditas, Analisis Kesesuaian Lahan.
            3.   Laporan : Laporan Komoditas per Wilayah, Laporan Komoditas per Jenis












Tidak ada komentar:

Posting Komentar