eikosenoat (2,86%), asam mead (1,56%), asam arakhidonat (3,91%), asam eikosapentaenoat/EPA (21,86%), asam erukat (0,36%), asam dokosaheksaenoat/DHA (8,22%), dan asam nervonat (1,25%).
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil ikan yang cukup besar karena memiliki wilayah kelautan yang cukup luas. Hal ini menjadikan Indonesia sangat potensial untuk industri perikanan, salah satunya adalah industri pengalengan ikan. Menurut Harini Nalendra, Ketua Asosiasi Tuna Indonesia, hingga 2007 silam, masih ada 51 perusahaan pengalengan ikan dengan kapasitas terpasang 350 ribu ton per tahun (Anonim, 2008). Salah satu jenis ikan yang menjadi primadona industri ini adalah ikan tuna. Jenis ikan tuna yang banyak digunakan dalam industri pengalengan di Indonesia adalah jenis Skipjack (Katsuwonus pelamis/Cakalang) dan jenis Yellowfin (Neothunnus macropterus).
Industri pengalengan ikan tuna menghasilkan beberapa jenis produk samping, yaitu hati, isi perut, kepala, ekor, daging merah, dan limbah cair. Salah satu produk samping yang belum dimanfaatkan secara optimal adalah precooked oil, yakni minyak dari limbah cair yang dihasilkan pada tahap prapemasakan (precooking) ikan tuna. Precooked oil yang dihasilkan adalah sekitar 0,1% dari total bahan baku yang digunakan oleh industri pengalengan ikan tuna. Jika jumlah ikan tuna yang diproses oleh industri pengalengan mencapai 100.000 ton per tahun, maka precooked oil ikan tuna yang dapat dihasilkan adalah sekitar 100 ton per tahun. Precooked oil ikan tuna biasanya dijual dengan harga murah untuk industri cat, vernis, pakan ternak atau bahkan tidak dimanfaatkan sama sekali (Winarno, 1999).
Winarno (1999) menuliskan bahwa terdapat 20 jenis asam lemak dalam minyak ikan tuna, dengan panjang rantai karbon berkisar antara 14 sampai 22 dan terdapat ikatan rangkap 0 sampai 6 buah. Asam lemak-asam lemak tersebut dikelompokkan berdasarkan jumlah ikatan rangkapnya menjadi asam lemak jenuh (saturated fatty acid), asam lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acid/MUFA), dan asam lemak tak jenuh jamak (poliunsaturated fatty acid/PUFA). Secara umum minyak ikan tuna mengandung asam lemak tidak jenuh (MUFA dan PUFA) lebih banyak dibandingkan dengan jenis minyak lainnya. Secara khusus minyak ikan tuna mengandung PUFA omega-3, yaitu jenis DHA dan EPA yang sangat bermanfaat bagi kesehatan.
Roubal (1963) dalam Winarno (1999) membuktikan bahwa kandungan PUFA dalam minyak ikan tuna hanya mengalami sedikit perubahan selama proses pengalengan. Estiasih (2009) juga memaparkan bahwa jika ikan yang diolah mengandung PUFA, minyak hasil pengolahan tersebut biasanya masih mengandung PUFA juga. Penelitian Roubal juga membuktian kandungan asam lemak omega-3 yang terdapat dalam minyak yang diekstrak dari daging putih dan merah ikan tuna mentah, minyak dari limbah cair (precooked oil), dan minyak daging putih ikan tuna yang dikalengkan tidak berbeda jauh. Mengingat hal tersebut precooked oil ikan tuna masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber produk turunan berupa asam lemak essensial.
Kandungan asam lemak yang sangat beragam pada precooked oil ikan tuna perlu dilakukan pemisahan sehingga dihasilkan minyak ikan dengan kandungan asam lemak esensial yang tinggi. Pemisahan asam lemak-asam lemak tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan metode kromatografi kolom. Metode kromatografi dengan menggunakan silika gel terargentasi sebagai fase diam dapat memisahkan asam lemak-asam lemak berdasarkan panjang rantai dan jumlah ikatan rangkapnya. Perbedaan laju antara asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh saat melewati kolom kromatografi dapat dimanfaatkan untuk memisahkan asam lemak tak jenuh tersebut dari campuran asam lemak. Selanjutnya, pembentukan ikatan antara asam lemak tak jenuh dengan logam perak cukup lemah dan reversibel tetapi menyebabkan kelarutan asam lemak tak jenuh meningkat dengan pelarut polar (Hamilton, 1995). Dengan demikian asam lemak-asam lemak tersebut dapat dipisahkan secara selektif berdasarkan ikatan rangkapnya dengan cara mengatur polaritas fase gerak (eluen).
Bertitik tolak dari penjelasan di atas, penulis merasa perlu mempelajari jenis asam lemak dari precooked oil ikan tuna yang dihasilkan melalui pemisahan dengan kromatografi kolom.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut: “Jenis asam lemak apakah yang dihasilkan dari pemisahan dengan metode kromatografi kolom?”.
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis asam lemak dari precooked oil ikan tuna melalui pemisahan dengan metode kromatografi kolom.
Tujuan penelitian ini adalah menetapkan jenis asam lemak dari precooked oil ikan tuna melalui pemisahan dengan metode kromatografi kolom.
1.4 Kegunaan Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan informasi tentang pemisahan asam lemak sebagai salah satu upaya dalam memanfaatkan precooked oil ikan tuna sebagai sumber asam lemak esensial baru yang dapat meningkatkan nilai tambah precooked oil tersebut, khususnya dalam bidang pangan.Ikan Tuna
Ikan Tuna adalah ikan yang hidup secara bergerombol dan hidup di perairan tropis sampai subtropis. Ikan tuna termasuk dalam keluarga Scombroidae. Secara umum bagian ikan tuna yang dapat dimakan (edible portion) berkisar antara 50– 60% dari tubuh ikan (Stanby, 1963). Winarno (1999) menyatakan bahwa ikan tuna pada umumnya memiliki dua jenis daging, yaitu daging berwarna putih dan daging berwarna merah. Namun, industri pengalengan hanya menggunakan daging yang berwarna putih. Umumnya kandungan minyak pada daging merah ikan lebih tinggi dibandingkan dengan daging putih ikan, tetapi pada ikan tuna perbedaan kandungan minyak ini tidak berbeda nyata. Jenis ikan tuna yang banyak digunakan dalam industri pengalengan di Indonesia adalah jenis Skipjack (Katsuwonus pelamis) atau lebih dikenal dengan nama Cakalang, dan jenis Yellowfin (Neothunnus macropterus).
Ikan tuna mengandung protein yang tinggi dan lemak yang rendah. Kadar protein pada ikan tuna hampir dua kali kadar protein pada telur yang selama ini dikenal sebagai sumber protein utama. Kadar protein per 100 gram ikan tuna dan telur masing-masing 22 g dan 13 g. Di samping itu, ikan tuna mengandung mineral kalsium, fosfor, besi dan sodium, vitamin A (retinol), dan vitamin B (thiamin, riboflavin dan niasin).
Ikan tuna juga mengandung asam lemak omega-3, khususnya asam lemak rantai panjang (Eikosapentaenoat/EPA dan Docosaheksaenoat/DHA). Asam lemak omega-3 tersebut memegang peranan penting dalam kesehatan. Asam lemak omega-3 dapat menurunkan kadar kolesterol darah, menghambat proses terjadinya aterosklerosis (penyumbatan pembuluh darah), menurunkan pertumbuhan dan perkembangan metastatik tumor, dibutuhkan dalam pertumbuhan janin, serta mempunyai peran penting untuk proses tumbuh kembang sel-sel saraf, termasuk sel otak, sehingga dapat meningkatkan kecerdasan, terutama pada anak-anak yang sedang mengalami proses tumbuh kembang.
2.2 Precooked oil Ikan Tuna
Secara umum minyak ikan dapat diperoleh dari berbagai jenis ikan seperti sarden, mackerel, salmon, tuna, ikan rucah atau ikan hasil samping penangkapan ikan (by catch), dan limbah industri pengolahan ikan (penepungan dan pengalengan ikan) (Winarno, 1999). Dalam proses pengalengan ikan, minyak ikan diperoleh pada tahap proses pemasakan awal (precooking) yang bertujuan untuk memudahkan pemisahan kulit dan tulang dari daging ikan, pemisahan daging merah dan daging putih, dan untuk memudahkan dalam pewadahan dalam kaleng (Estiasih, 2009).
Precooked oil ikan tuna diperoleh pada tahap proses pemasakan awal (precooking) pengalengan ikan berbentuk limbah cair. Pada proses pengalengan, mulai dari pembersihan hingga pengisian ke dalam kaleng, dihasilkan limbah baik padat maupun cair (Gambar 1). Pada awalnya, ikan-ikan tuna yang akan dikalengkan dikeluarkan dari tempat penyimpanan beku untuk dibersihkan. Proses pembersihan ini menghasilkan limbah padat berupa isi perut. Setelah dibersihkan, dilakukan pemasakan awal (precooking). Selama proses pemasakan tersebut sebagian minyak yang ada dalam tubuh ikan akan keluar bercampur dengan air perebusan dan protein terlarut, serta bahan-bahan terlarut lainnya, sehingga dihasilkan limbah cair. Setelah pemasakan awal, dilakukan pendinginan agar kepala, kulit, tulang, serta daging merah dapat dipisahkan. Selanjutnya, ikan-ikan yang sudah dibersihkan ditiriskan, kemudian diisikan ke dalam kaleng. Penirisan dilakukan untuk menghilangkan air perebusan yang terbawa pada saat pemasakan awal. Penirisan menghasilkan limbah cair yang sama seperti pada proses pemasakan awal. Masing-masing kaleng yang telah berisi ikan ditimbang, kemudian ditutup dan disterilisasi. Sebelum dilakukan pelabelan (labeling), kaleng-kaleng tersebut didinginkan. Setelah proses labeling, ikan-ikan kaleng tersebut dapat dipasarkan.
Limbah cair yang terkumpul merupakan campuran fraksi minyak, fraksi air, dan padatan tersuspensi. Pada industri pengalengan ikan, limbah cair tersebut biasanya ditampung dan dipisahkan berdasarkan fraksi-fraksinya. Pemisahan dilakukan secara sederhana yaitu dengan cara dekantasi cairan selama waktu tertentu atau dengan menggunakan alat atau mesin pemisah (oil separator). Fraksi paling bawah terdiri dari air dan padatan terlarut dan pada bagian atas adalah fraksi minyak. Fraksi minyak diambil dan biasanya dijual.
Sebagian besar fraksi minyak hasil pengalengan tersebut tidak digunakan untuk pangan, tetapi untuk untuk industri cat, vernis, petis, pakan ternak, industri kulit, atau bahkan tidak dimanfaatkan sama sekali, dan kadang-kadang dimanfaatkan sebagai sumber asam lemak omega-3 (Estiasih, 2009).Kerangka Pikiran
Pemisahan asam lemak dari precooked oil ikan tuna dengan metode kromatografi kolom yang menggunakan silika gel terargentasi sebagai fase diam akan membentuk kompleks polar yang reversibel dengan ion perak (Ag+). Kompleks polar tersebut terbentuk disebabkan oleh adanya ikatan rangkap dari asam lemak, dengan kata lain, asam lemak tak jenuh membentuk suatu kompleks dengan ion perak (ALTJ-Ag), sehingga mengakibatkan perbedaan laju alir antara asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Hal ini dimanfaatkan untuk pemisahan asam lemak tak jenuh dari campuran asam lemak (Ryu et al., 1997).
Masing-masing asam lemak tak jenuh memiliki jumlah ikatan rangkap yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan inilah yang menyebabkan perbedaan polaritas pada masing-masing asam lemak. Kompleks polar yang terbentuk dengan ion perak (ALTJ-Ag) dapat dielusi secara selektif berdasarkan polaritasnya, dari polaritas rendah hingga polaritas tinggi dengan mengubah polaritas dari eluen. Sehingga komponen-komponen asam lemak tak jenuh, yaitu MUFA dan PUFA, dapat dipisahkan secara selektif dengan pelarut yang lebih polar berdasarkan perbedaan jumlah ikatan rangkapnya (Ryu et al., 1997).
Pemisahan MUFA dan PUFA dapat dilakukan dengan menggunakan sistem pengelusi landaian, yaitu pelarut pengelusi dialirkan dari yang nonpolar hingga polar. Guil-Guerrero et al. (2001) mencoba menggunakan sistem pengelusi landaian bertahap berdasarkan deret tradisional, yaitu 0,5% aseton dalam heksan, 1% aseton dalam heksan, 5% aseton dalam heksan, 10% aseton dalam heksan, dan 15% aseton dalam heksan dengan umpan bahan baku sebanyak 10 g yang terlebih dahulu dilarutkan dalam heksan sebanyak 10 ml. Heksan merupakan pelarut nonpolar memiliki indeks polaritas nol, sedangkan aseton memiliki indeks polaritas 5,1. Kedua pelarut ini memiliki indeks polaritas yang cukup jauh, sehingga pada tingkat konsentrasi tertentu kedua pelarut ini dapat mengalami pemisahan (immiscible).
Pada penelitian tersebut, masing-masing deret elusi menghasilkan jenis asam lemak yang berbeda, yaitu pelarut 0,5% aseton dalam heksan mengelusi ester MUFA 16:1n-9 dan 18:1n-9. Selanjutnya, pelarut yang lebih polar yaitu dengan 1% aseton dalam heksan mengelusi ester MUFA 20:1n-9 dan 22:1n-9. Pelarut 5% aseton dalam heksan mengelusi ester PUFA 18:4n-3, 20:4n-6, 20:5n-3 dan 22:5n-3. Pengelusian dengan pelarut 10% aseton dalam heksan menghasilkan campuran ester EPA dan DHA. Terakhir, pengelusian dengan pelarut 15% aseton dalam heksan menghasilkan campuran ester DHA 93,4-100%.
Ryu et al. (1997) melakukan pemisahan ALA (α-linolenic acid) dari minyak perilla dengan menggunakan silika gel terargentasi sebanyak 100 g untuk mengisi kolom yang berdiameter 2,5 cm dan tingginya 30 cm. Sebelumnya silika gel terargentasi tersebut harus dicampur dengan heksan sehingga membentuk lumpur silika gel. Hal ini dilakukan agar silika gel benar-benar padat mengisi kolom, tanpa celah ataupun retakan. Pada penelitian tersebut, masing-masing eluen yang digunakan untuk mengelusi asam lemak adalah sebanyak 200 ml. Khusus untuk eluen pertama dan eluen terakhir ada perbedaan dengan volume eluen lainnya. Eluen pertama hanya dimasukkan 190 ml heksan, karena 10 ml heksan sisanya digunakan untuk melarutkan 10 g bahan baku. Untuk eluen terakhir, jumlah campuran pelarut yang digunakan adalah 400 ml. Hal ini untuk menjaga agar fase diam tetap dalam kondisi basah ketika pengelusian selesai. Untuk pemantauan senyawa yang telah dipisahkan dilakukan dengan membagi eluat menjadi beberapa fraksi dengan volume yang sama.
Menurut Gritter et al. (1991) ukuran kolom kromatografi dapat bermacam-macam, tetapi biasanya tinggi kolom sekurang-kurangnya 10 kali diameter kolom atau bahkan sampai 100 kali diameter kolom kromatografinya. Diameter kolom kromatografi yang digunakan pada penelitian ini adalah diameter 3 cm dengan tinggi 30 cm, dengan kata lain tinggi kolom 10 kali dari diameter kolom kromatografi.
Mengingat kolom yang digunakan pada penelitian ini berdiameter 3 cm, maka dilakukan uji coba kolom kromatografi. Fraksi dari eluen terakhir (15% aseton dalam heksan) digunakan sebagai uji coba dan menunjukkan bahwa pada fraksi tersebut terdapat campuran DHA dan EPA. Hasil percobaan hampir sama dengan hasil dari penelitian Guil-Guerrero et al. (2001), dimana pengelusian dengan pelarut 15% aseton dalam heksan menghasilkan campuran DHA 93,4-100%.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan di atas, maka komposisi eluen yang digunakan pada penelitian utama untuk memisahkan asam lemak-asam lemak dari precooked oil ikan tuna dapat dilihat sebagai berikut:
1. Eluen 1 : heksan 190 ml
2. Eluen 2 : heksan yang mengandung aseton 0,5% 200 ml
3. Eluen 3 : heksan yang mengandung aseton 1 % 200 ml
4. Eluen 4 : heksan yang mengandung aseton 5% 200 ml
5. Eluen 5 : heksan yang mengandung aseton 10% 200 ml
6. Eluen 6 : heksan yang mengandung aseton 15 % 400 ml
3.2 Hipotesis
Berdasarkan kerangka pikiran di atas, maka dapat diambil hipotesis sebagai berikut: komposisi eluen yang berbeda (heksan-aseton) akan memisahkan jenis asam lemak yang berbeda dari setiap fraksi yang dihasilkan.Tempat dan Waktu Penelitian
Percobaan pendahuluan dilakukan pada bulan September-November 2009 di Laboratorium Keteknikan Pengolahan Pangan dan Laboratorium Kimia Pangan Jurusan Teknologi Industri Pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran. Percobaan utama rencananya dilakukan Mei-Juni 2010 di Laboratorium Keteknikan Pengolahan Pangan dan Laboratorium Kimia Pangan Jurusan Teknologi Industri Pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran.
4.2 Bahan dan Alat Percobaan
4.2.1 Bahan Percobaan
Bahan baku yang digunakan adalah minyak hasil samping pengalengan ikan tuna (tuna precooked oil) yang diperoleh dari PT Aneka Tuna Indonesia, Gempol, Pasuruan, Jawa Timur. Pada precooked oil tersebut ditambahkan antioksidan yang terdiri dari 0,1% BHA, 0,02% asam askorbat, 0,02% asam sitrat, dan 0,2% lesitin (b/b dari precooked oil). Bahan-bahan untuk proses hidrolisis (preparation of FFA), preparasi kolom, serta proses pemisahan asam lemak adalah NaOH, Na2EDTA, akuades, etanol 96%, gas nitrogen, HCl 23%, heksan, silika gel untuk kolom kromatografi 60 mesh, aseton, dan perak nitrat.
Bahan-bahan untuk analisis bilangan TBA, bilangan peroksida, bilangan iod, dan bilangan asam adalah larutan TBA (0,2883 g TBA/100 ml asam asetat glasial), asetat glasial, kloroform, natrium tiosulfat, indikator pati 1%, KI jenuh, larutan wijs, KI 15%, alkohol 95%, KOH, dan indikator PP.
4.2.2 Alat Percobaan
Alat-alat yang digunakan untuk percobaan ini adalah erlenmeyer, batang pengaduk, waterbath, termometer, corong pemisah, rotavapor, gelas ukur, kromatografi kolom (tinggi 30 cm dan diameter 3 cm), Kromatorafi gas- spektrometri massa (GC-MS), spektrofotometri, serta botol-botol infus untuk menampung fraksi.
4.3 Metode Penelitian
Metode Penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan perlakuan diulang sebanyak dua kali yang dianalisis secara deskriptif, yaitu mendeskripsikan jenis asam lemak yang dihasilkan dari setiap fraksi berdasarkan kromatogram kromatografi gas.
4.4 Pelaksanaan Percobaan
4.4.1 Percobaan Pendahuluan
Penelitian pendahuluan yang dilakukan meliputi: uji coba kolom kromatografi dan pengkondisian alat yang akan digunakan untuk penelitian utama dikarenakan alat yang digunakan berbeda.
4.4.2 Penelitian Utama
Percobaan utama yang akan dilakukan terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah proses penyabunan (saponifikasi) precooked oil ikan tuna dengan menggunakan prosedur yang digunakan berdasarkan penelitian Chen et al. (2000) namun dengan sedikit modifikasi. Tahap kedua merupakan preparasi kolom kromatografi meliputi pembuatan silika gel terargentasi, pengisian kolom dengan silika gel terargentasi yang sebelumnya dilarutkan dalam heksan, ekuilibrasi kolom, pemasukan umpan bahan baku, serta pemasangan pompa untuk mempercepat laju aliran. Tahap ketiga merupakan proses pemisahan asam lemak menjadi 6 fraksi berdasarkan komposisi eluen (heksan-aseton) sebagai berikut:
1. Eluen 1 : heksan 190 ml
2. Eluen 2 : heksan yang mengandung aseton 0,5% 200 ml
3. Eluen 3 : heksan yang mengandung aseton 1 % 200 ml
4. Eluen 4 : heksan yang mengandung aseton 5% 200 ml
5. Eluen 5 : heksan yang mengandung aseton 10% 200 ml
6. Eluen 6 : heksan yang mengandung aseton 15 % 400 ml
4.5 Kriteria Pengamatan
Kriteria pengamatan pada penelitian ini meliputi:
1. Jenis asam lemak setiap fraksi dengan menggunakan kromatografi gas dengan parameter pengukuran, sebagai berikut:
· Merek alat : Shimadzu QP 5050 A
· Kolom : DB 5 MS panjang 30 meter Ø 0,25 MM
· Suhu kolom : 60°C, kenaikan 10°C sampai suhu 300°C (ditahan 2 menit)
· Suhu detektor : 300°C Linier velocity : 46
· Suhu injector : 310°C Tekanan : 100 kPa
· Waktu analisa : 30 menit Laju akhir : 36 mL/menit
· Volume injeksi: 0,2 µL Split Ratio : 1:20
2. Rendemen setiap fraksi dengan metode gravimetri (Apriyantono, dkk., 1989)
3. Bilangan TBA setiap fraksi (AOAC, 1990)
4. Bilangan peroksida pada precooked oil ikan tuna metode titrasi iodin (Ketaren, 2005)
5. Bilangan iod dengan metode wijs pada precooked oil ikan tuna (Ketaren, 2005)
6. Bilangan Asam pada precooked oil ikan tuna (Sudarmadji, dkk., 2003)
Warna dengan menggunakan Chromameter (Hutching, 1999)Jenis Asam Lemak dari Setiap Fraksi
Komposisi asam lemak dianalisis dan dihitung dengan menggunakan Kromatografi Gas-Spektrometri Massa (Gas Chromatography-Mass Spectrometry /GC-MS). Prinsip pemisahan asam lemak dengan kromatografi gas adalah berdasarkan titik uap. Titik uap berbanding lurus dengan berat molekul asam lemak dan panjang rantai karbon. Spektrometer pada GC-MS mampu menganalisis sampel dalam jumlah yang sangat sedikit dan menghasilkan data berupa struktur dan identitas senyawa organik. Jika uap dari kromatografi gas diarahkan ke spektrometer massa, maka dapat diperoleh informasi mengenai struktur masing-masing puncak dari kromatogram berupa spektrum massa. Spektrum massa diukur secara otomatis untuk masing-masing komponen yang terdapat dalam kromatogram. Kemudian data disimpan di dalam komputer sehingga melalui data tersebut diperoleh hasil kromatogram disertai integrasi semua puncak. Spektrum ini selanjutnya dapat dipakai untuk identifikasi senyawa yang pernah diketahui dan sebagai sumber informasi struktur dan berat molekul senyawa baru.
Menurut Ketaren (2005), jenis asam lemak yang mudah menguap adalah asam lemak yang terdiri dari deretan asam lemak yang terdiri dari asam butirat sampai asam miristat (C4-C14). Berdasarkan eluennya, pemisahan asam lemak yang terdapat dalam precooked oil ikan tuna menghasilkan 6 fraksi dan masing-masing fraksi menggandung berbagai jenis dan jumlah asam lemak yang berbeda.
5.1.1 Jenis Asam Lemak pada Fraksi 1
Kromatogram fraksi 1 yang disajikan pada Gambar 4 menampilkan 19 puncak, namun setelah dibandingkan dengan standar asam lemak maka puncak yang menunjukkan asam lemak hanya berjumlah 9, yaitu puncak nomor 1, 2, 4, 5, 6, 7, 10, 11, dan 14. Sepuluh puncak lainnya merupakan pengotor, berupa pelarut dan senyawa karbonil hasil oksidasi (hidroperoksida dan aldehida).Tabel 3. Jenis Asam Lemak dan Jumlahnya dari Fraksi 1
| No. | No. Puncak | Nama Asam Lemak | % Asam Lemak | |
| IUPAC | Trivial | |||
| 1. | 1 | Asam pentanoat | Asam valerat (C5:0) | 0,58 |
| 2. | 2 | Asam tetradekanoat | Asam miristat (C14:0) | 6,87 |
| 3. | 4 | Asam 9-hekasadekenoat | Asam palmitoleat (C16:1n-7) | 14,13 |
| 4. | 5 | Asam heksadekanoat | Asam palmitat (C16:0) | 23,30 |
| 5. | 6 | Asam 9-oktadekenoat | Asam oleat (C18:1n-9) | 3,69 |
| 6. | 7 | Asam 6-oktadekenoat | Asam petroselinat (C18:1-6) | 3,19 |
| 7. | 10 | Asam oktadekanoat | Asam stearat (C18:0) | 30,06 |
| 8. | 11 | Asam 9-oktadekenoat | Asam elaidat (C18:1-9t) | 12,60 |
| 9. | 14 | Asam 11-eikosenoat | Asam gondoat (C20:1n-9) | 5,59 |
Eluen yang digunakan untuk mengelusi fraksi 1 adalah heksan. Heksan termasuk pelarut nonpolar, sehingga asam lemak yang terelusi oleh heksan merupakan asam lemak nonpolar, yaitu golongan asam lemak jenuh. Jenis asam lemak yang terelusi pada fraksi 1 mempunyai rantai karbon 5 sampai 20.
Asam lemak tersebut tidak hanya berupa asam lemak jenuh, seperti yang diharapkan, tetapi ada juga kelompok asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA). Jenis asam lemak jenuh yang terelusi pada fraksi 1 adalah asam valerat, asam miristat, asam palmitat, dan asam stearat, sedangkan untuk jenis MUFA yang terelusi adalah asam palmitoleat, asam oleat, asam petroselinat, asam elaidat, dan asam gondoat. Meskipun fraksi 1 kebanyakan mengandung jenis MUFA, namun jumlah asam lemak jenuhnya paling tinggi, yaitu asam stearat 30,06% dan asam palmitat 23,30%.
Adanya golongan MUFA pada fraksi 1 diakibatkan penggunaan kolom konvesional yang mewajibkan kolom harus selalu basah untuk menghindari retaknya padatan fase diam yang dapat menyebabkan berkurangnya efektivitas untuk memisahkan asam lemak, sehingga penambahan eluen berikutnya harus dilakukan pada saat fase diam masih basah oleh eluen pertama. Pencampuran kedua eluen tersebut mengakibatkan polaritas eluen berubah sehingga menghasilkan polaritas yang dapat mengelusi MUFA.
5.1.2 Jenis Asam Lemak pada Fraksi 2
Kromatogram fraksi 2 yang disajikan oleh Gambar 5 menampilkan 19 puncak, namun setelah dibandingkan dengan standar asam lemak maka puncak yang menunjukkan asam lemak hanya berjumlah 9, yaitu puncak nomor 2, 4, 5, 8, 11, 12, 15, 17, dan 18. Sepuluh puncak lainya merupakan pengotor, berupa pelarut dan senyawa karbonil hasil oksidasi (hidroperoksida dan aldehida). Kesimpulan
Pada precooked oil ikan tuna terdapat 21 jenis asam lemak, yang terdiri atas 8 jenis golongan asam lemak jenuh dan 13 jenis golongan asam lemak tak jenuh. Jenis dan jumlah asam lemak jenuh yang terdapat pada precooked oil ikan tuna adalah asam valerat (0,10%), asam miristat (3,44%), asam palmitat (14,64%), asam stearat (8,39%), asam heneikosanoat (0,15%), asam arakhidat (3,30%), asam lignoserat (2,32%), dan asam cerotat (0,72%). Jenis dan jumlah asam lemak tak jenuh yang terdapat pada precooked oil ikan tuna adalah asam palmitoleat (6,56%), asam oleat (4,99%), asam petroselinat (1,26%), asam elaidat (11,70%), asam α-linolenat (0,48%), asam gondoat (0,93%), asam eikosenoat (2,86%), asam mead (1,56%), asam arakhidonat (3,91%), asam eikosapentaenoat/EPA (21,86%), asam erukat (0,36%), asam dokosaheksaenoat/DHA (8,22%), dan asam nervonat (1,25%).
6.2 Saran
Mengingat terjadinya efek tailing pada proses pemisahan asam lemak dengan kromatografi kolom maka perlu dilakukan pengkondisian kolom, salah satunya seperti pemakaian jaket kolom, pengaturan kecepatan aliran kolom, kepadatan fase diam, pengaturan suhu kolom dan lingkungan, dan lain-lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar